Arsip Tag: HARKITNAS2016

Sejarah Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei

Sejarah Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei

Sejarah Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei

Sejarah Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei. Kebangkitan Nasional merupakan masa bangkitnya semangat nasionalisme, persatuan, kesatuan, dan kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Negara Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan 350 tahun oleh Negara Belanda. Kebangkitan Nasional ditandai dengan 2 peristiwa penting yaitu berdirinya Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 dan ikrar Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Masa ini merupakan salah satu dampak politik etis yang mulai diperjuangkan sejak masa Multatuli. Pada tahun 1912 partai politik pertama Indische Partij berdiri. Ditahun 1912 itu juga berdiri Sarekat Dagang Islam (Solo) yang didirikan oleh Haji Samanhudi mendirikan, KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di Yogyakarta serta Dwijo Sewoyo dan kawan-kawan mendirikan Asuransi Jiwa Bersama Bumi Putera di Magelang Jawa Timur.
Suwardi Suryoningrat yang tergabung dalam Komite Boemi Poetera, menulis Als ik eens Nederlander was (Seandainya aku orang Belanda), pada tanggal 20 Juli 1913 yang memprotes keras rencana pemerintah Belanda merayakan 100 tahun kemerdekaannya di Hindia Belanda. Karena tulisan inilah dr. Tjipto Mangunkusumo serta Suwardi Suryoningrat dihukum dan diasingkan ke Banda dan Bangka, tetapi “karena boleh memilih”, keduanya dibuang ke Negeri Belanda. Namun Di sana Suwardi justru belajar ilmu pendidikan dan dr. Tjipto karena sakit dipulangkan ke Indonesia.
Tokoh-tokoh sejarah kebangkitan nasional, antara lain: Gunawan, Sutomo, dr. Tjipto Mangunkusumo, dr. Douwes Dekker, Suwardi Suryoningrat (Ki Hajar Dewantara), dan lain-lain. Tanggal 20 Mei 1908, berdirinya Boedi Oetomo, dijadikan sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
Sejarah Singkat Boedi Oetomo
Bangsa Indonesia, yang dijajah oleh Belanda, hidup dalam penderitaan dan kebodohan selama ratusan tahun. Bahkan tingkat kecerdasan rakyat, sangat rendah. Hal ini adalah pengaruh sistem kolonialisme yang berusaha untuk “membodohi” dan “membodohkan” bangsa jajahannya.
Politik ini jelas terlihat pada gambaran berikut:
Pengajaran sangat kurang, bahkan setelah menjajah selama 250 tahun tepatnya pada 1850 Belanda mulai memberikan anggaran untuk anak-anak Indonesia, itupun sangat kecil.
Pendidikan yang disediakan tidak banyak, bahkan pengajaran tersebut hanya ditujukan untuk menciptakan tenaga yang bisa baca tulis dan untuk keperluan perusahaan saja.
Keadaan yang sangat buruk ini membuat dr. Wahidin Soedirohoesodo yang mula-mula berjuang melalui surat kabar Retnodhumilah, menyerukan pada golongan priyayi Bumiputera untuk membentuk dana pendidikan. Namun usaha tersebut belum membuahkan hasil, sehingga dr. Wahidin Soedirohoesodo harus terjung ke lapangan dengan berceramah langsung.
Berdirinya Boedi Oetomo
Dengan R. Soetomo sebagai motor, timbul niat di kalangan pelajar STOVIA di Jakarta untuk mendirikan perhimpunan di kalangan para pelajar guna menambah pesatnya usaha mengejar ketertinggalan bangsa.
Langkah pertama yang dilakukan Soetomo dan beberapa temannya ialah mengirimkan surat-surat untuk mencari hubungan dengan murid-murid di kota-kota lain di luar Jakarta, misalnya: Bogor, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Magelang.
Pada hari Sabtu tanggal 20 Mei 1908 pukul 9 pagi, Soetomo dan kawan-kawannya: M. Soeradji, M. Muhammad saleh, M. Soewarno, M. Goenawan, Soewarno, R.M. Goembrek, dan R. Angka berkumpul dalam ruang kuliah anatomi. Setelah segala sesuatunya dibicarakan masak-masak, mereka sepakat memilih “Boedi Oetomo” menjadi nama perkumpulan yang baru saja mereka resmikan berdirinya.
“Boedi” artinya perangai atau tabiat sedangkan “Oetomo” berarti baik atau luhur. Boedi Oetomo yang dimaksud oleh pendirinya adalah perkumpulan yang akan mencapai sesuatu berdasarkan atas keluhuran budi, kebaikan perangai atau tabiat, kemahirannya.

Pedoman Peringatan Harkitnas ke-108 Tahun 2016

Pedoman Peringatan Harkitnas ke-108 Tahun 2016

Pedoman Peringatan Harkitnas ke-108 Tahun 2016

Berikut ini adalah Pedoman Peringatan dan Susunan Panitia Nasional Hari Kebangkitan Nasional ke-108 Tahun 2016.

Tema:

Tema Peringatan 108 Tahun Kebangkitan Nasional adalah:

“MENGUKIR MAKNA KEBANGKITAN NASIONAL DENGAN
MEWUJUDKAN INDONESIA YANG BEKERJA NYATA, MANDIRI DAN
BERKARAKTER”

Logo:

Sehubungan dengan hal tersebut, bersama ini diberitahukan Penyelenggaraan Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-108 Tahun 2016 sebagai berikut:

  1. Tema dan logo tersebut agar dimasyarakatkan/disebarluaskan kepada masyarakat sampai di tingkat kelurahan/desa, RW dan RT.
  2. Kepada masyarakat, instansi pemerintah, sampai di tingkat kelurahan/desa, RW dan RT, maupun lembaga swasta, diinstruksikan agar mengibarkan Bendera Merah Putih satu tiang penuh selama 1 (satu) hari pada tanggal 20 Mei 2016 mulai pukul 06.00 s.d 18.00 WIB.
  3. Pekan Swadesi, mulai tanggal 16 s.d 19 Mei 2016 (empat hari kerja) berpakaian produk dalam negeri yang bermotif batik/lurik sebagai ungkapan cinta produksi dalam negeri.
  4. Badan/Dinas/Lembaga Pemerintah/Swasta BUMD, PTN, PTS Provinsi Jawa Timur untuk menyelenggarakan upacara di lingkungan masing-masing pada tanggal 20 Mei 2016 dan hal-hal lain yang berkaitan dengan pelaksanaan peringatan dimaksud dapat mengacu pada peringatan tahun-tahun yang lalu.
  5. Sambutan Menteri Komunikasidan lnformatika, dan Pedoman Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-108 Tahun 2016 dapat diunduh melalui www.setneg.go.id.

Demikian untuk mendapat perhatian.

 


Dokumen lengkap dapat diunduh pada tautan berikut:

  • Surat Edaran Pemprov Jatim Perihal Peringatan Harkitnas 2016 Prov. Jatim
  • Pedoman Upacara Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-108 Tahun 2016
  • Surat Edaran Menteri Sekretaris Negara tentang Penyelenggaraan Upacara Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-108 Tahun 2016
  • Pedoman Peringatan Harkitnas 2016

Sumber: http://mediacenter.malangkota.go.id/2016/05/pedoman-peringatan-harkitnas-ke-108-tahun-2016/#ixzz48n47kAcD