GERMAS Wujudkan Indonesia Sehat

GERMAS Wujudkan Indonesia Sehat

GERMAS Wujudkan Indonesia Sehat

Jakarta, MC15 November 2016 – Saat ini, Indonesia tengah menghadapi tantangan besar yakni masalah kesehatan triple burden, karena masih adanya penyakit infeksi, meningkatnya penyakit tidak menular (PTM) dan penyakit-penyakit yang seharusnya sudah teratasi muncul kembali. Pada era 1990, penyakit menular seperti ISPA, Tuberkulosis dan Diare merupakan penyakit terbanyak dalam pelayanan kesehatan. Namun, perubahan gaya hidup masyarakat menjadi salah satu penyebab terjadinya pergeseran pola penyakit (transisi epidemiologi). Tahun 2015, PTM seperti Stroke, Penyakit Jantung Koroner (PJK), Kanker dan Diabetes justru menduduki peringkat tertinggi.

Sebuah pembelajaran berharga di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), anggaran banyak terserap untuk membiayai penyakit katastropik, yaitu: PJK, Gagal Ginjal Kronik, Kanker, dan Stroke. Selain itu, pelayanan kesehatan peserta JKN juga didominasi pada pembiayaan kesehatan di tingkat lanjutan dibandingkan di tingkat dasar. Fakta ini perlu ditindaklanjuti karena berpotensi menjadi beban yang luar biasa terhadap keuangan negara.

Meningkatnya PTM dapat menurunkan produktivitas sumber daya manusia, bahkan kualitas generasi bangsa. Hal ini berdampak pula pada besarnya beban pemerintah karena penanganan PTM membutuhkan biaya yang besar. Pada akhirnya, kesehatan akan sangat mempengaruhi pembangunan sosial dan ekonomi.

“Penduduk usia produktif dengan jumlah besar yang seharusnya memberikan kontribusi pada pembangunan, justru akan terancam apabila kesehatannya terganggu oleh PTM dan perilaku yang tidak sehat,” tutur Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, SpM (K) sambutannya dalam rangka Hari Kesehatan nasional (HKN) Ke-52 tahun 2016 di Jakarta (14/11).

Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan RI secara khusus mengingatkan masyarakat untuk menjaga kesehatan melalui gerakan masyarakat hidup sehat (GERMAS) guna mewujudkan Indonesia sehat.

Mengenai Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS)

Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) merupakan suatu tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan, dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup. Pelaksanaan GERMAS harus dimulai dari keluarga, karena keluarga adalah bagian terkecil dari masyarakat yang membentuk kepribadian.

GERMAS dapat dilakukan dengan cara : melakukan aktivitas fisik, mengonsumsi sayur dan buah, tidak merokok, tidak mengonsumsi alkohol, memeriksa kesehatan secara rutin, membersihkan lingkungan, dan menggunakan jamban. Pada tahap awal, GERMAS secara nasional dimulai dengan berfokus pada tiga kegiatan, yaitu: 1) melakukan aktivitas fisik 30 menit per hari, 2) mengonsumsi buah dan sayur, dan 3) memeriksakan kesehatan secara rutin.

“Tiga kegiatan tersebut dapat dimulai dari diri sendiri dan keluarga, dilakukan saat ini juga, dan tidak membutuhkan biaya yang besar”, tutur Menkes RI.

GERMAS merupakan gerakan nasional yang diprakarsai oleh Presiden RI yang mengedepankan upaya promotif dan preventif, tanpa mengesampingkan upaya kuratif-rehabilitatif dengan melibatkan seluruh komponen bangsa dalam memasyarakatkan paradigma sehat. Untuk menyukseskan GERMAS, tidak bisa hanya mengandalkan peran sektor kesehatan saja. Peran Kementerian dan Lembaga di sektor lainnya juga turut menentukan, dan ditunjang peran serta seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari individu, keluarga, dan masyarakat dalam mempraktekkan pola hidup sehat, akademisi, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, dan organisasi profesi dalam menggerakkan anggotanya untuk berperilaku sehat, serta pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah dalam menyiapkan sarana dan prasarana pendukung, memantau, dan mengevaluasi pelaksanaannya.

Salah satu dukungan nyata lintas sektor untuk suksesnya GERMAS, diantaranya Program Infrastruktur Berbasis Masyarakat (IBM) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang berfokus pada pembangunan akses air minum, sanitasi, dan pemukiman layak huni, yang merupakan infrastruktur dasar yang mendukung Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan dalam hal keamanan pangan.

Dalam kehidupan sehari-hari, praktik hidup sehat merupakan salah satu wujud Revolusi Mental. GERMAS mengajak masyarakat untuk membudayakan hidup sehat, agar mampu mengubah kebiasaan-kebiasaan atau perilaku tidak sehat. Untuk itu, Pemerintah RI diwakili Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, Puan Maharani, mencanangkan GERMAS pada 15 November 2016 di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tidak hanya di Bantul, GERMAS juga dicanangkan di sembilan wilayah lainnya, yaitu: Kabupaten Bogor (Jawa Barat), Kabupaten Pandeglang (Banten), Kota Batam (Kepulauan Riau), Kota Jambi (Jambi), Surabaya (Jawa Timur), Madiun (Jawa Timur), Pare-pare (Sulawesi Selatan), Kabupaten Purbalingga (Jawa Tengah), Kabupaten Padang Pariaman (Sumatera Barat).

Pencanangan GERMAS menandai puncak peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) Ke-52 yang jatuh pada 12 November 2016. Tahun ini, HKN ke-52 mengusung tema “Indonesia Cinta Sehat” dengan sub tema “Masyarakat Hidup Sehat, Indonesia Kuat”. Tema ini harus dimaknai secara luas, seiring dengan Program Indonesia Sehat dengan pendekatan keluarga melalui gerakan masyarakat hidup sehat (GERMAS). Secara khusus, GERMAS diharapkan dapat meningkatkan partisipasi dan peran serta masyarakat untuk hidup sehat, meningkatkan produktivitas masyarakat, dan mengurangi beban biaya kesehatan. (Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemkes dan Tim Komunikasi Pemerintah Kemkominfo.)

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan email kontak@kemkes.go.id.

Sosialisasi Revolusi Mental Bagi ASN Guna Tingkatkan Profesionalisme

Sosialisasi Revolusi Mental Bagi ASN Guna Tingkatkan Profesionalisme

Sosialisasi Revolusi Mental Bagi ASN Guna Tingkatkan Profesionalisme

Klojen, MC – Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Malang, mengadakan Sosialisasi Revolusi Mental Aparatur Sipil Negara (ASN) Tahun 2016 di Ruang Sidang Balaikota Malang. Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Wali Kota Malang, H. Moch Anton dan diikuti oleh 125 peserta yakni Kepala SKPD, Camat dan Lurah di lingkungan Pemerintah Kota Malang. Hadir pula dalam acara tersebut Wakil Wali Kota Malang, Drs. Sutiaji dan Sekretaris Daerah Kota Malang Dr. Idrus, M.Si, Senin (14/11).

Wali Kota Malang, H. Moch Anton didampingi Wawali dan Sekda menyampaikan pentingnya revolusi mental ASN di Ruang Sidang Balaikota Malang, Senin (14/11)

Kepala BKD Kota Malang, Drs. Subkhan menyampaikan tujuan diadakannya Sosialisasi Revolusi Mental ASN Tahun 2016, diantaranya untuk mengangkat kembali nilai-nilai integritas, etos kerja, dan gotong royong yang diperlukan oleh ASN demi terciptanya birokrasi  yang bersih dan akuntabel, serta mengubah cara pandang, pikir, sikap, dan perilaku serta cara kerja ASN untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, berdikari, dan berkepribadian khususnya pada Pemerintah Kota Malang.

“Berdasarkan amanat Menteri Pemberdayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, maka pada kesempatan ini kami membuat materi  buku saku Revolusi Mental  ASN sebanyak 1.050 buku dan dibagikan kepada jabatan struktural di Pemkot Malang,” ungkapnya.

Buku Saku ASN tersebut dikemas secara kreatif berupa komik mini yang isinya meliputi delapan area perubahan reformasi birokrasi, yakni mental aparatur, kelembagaan, tata laksana, SDM aparatur, akuntabilitas, pengawasan, peraturan perundang – undangan, serta pelayanan publik.

Dalam sambutannya, Abah Anton, sapaan akrab Wali Kota Malang menyampaikan bahwa revolusi mental menjadi agenda penting Pemerintahan Presiden Joko Widodo – Jusuf Kalla. Wujud revolusi mental yang dilaksanakan berupa reformasi yang menyentuh paradigma, mindset serta budaya dalam rangka pembangunan bangsa.

Keberadaan Undang-Undang RI Nomor 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, diharapkan mampu memperbaiki manajemen pemerintahan yang berorientasi pada pelayanan publik sebab ASN tidak berorientasi melayani atasan, melainkan melayani masyarakat.

“Melalui kegiatan sosialisasi ini, saya berharap nantinya para peserta akan memperoleh pengetahuan dan pemahaman terkait nilai-nilai revolusi mental yakni  integritas, etos kerja dan gotong royong, sehingga ke depan ASN mampu mendapatkan kepercayaan kembali dari masyarakat sekaligus menjadi  contoh dan teladan dalam menjalankan integritas dengan perilaku jujur, dapat dipercaya, anti memberi dan menerima suap,” ujar orang nomer satu di Pemkot Malang. (say/may)