KISAH SEJARAH KOTA MALANG YANG TAK BANYAK TERUNGKAP

KISAH SEJARAH KOTA MALANG YANG TAK BANYAK TERUNGKAP

KISAH SEJARAH KOTA MALANG YANG TAK BANYAK TERUNGKAP (1)

Punya Anak Kembar, Arsitek Belanda Bikin Gedung Kembar di Kayutangan

Warga Kota Malang pasti tahu kawasan Kayutangan.

Tapi, mungkin tak banyak tahu, mengapa disebut Kayutangan? Mengapa dulu orang-orang Eropa banyak yang memilih tinggal di sana?

Setidaknya ada dua versi yang menyebutkan, mengapa disebut Jalan Kayutangan, yang di zaman Belanda dikenal dengan nama Jalan Pita itu?

Pertama, merujuk pada data sejarahyang menyebutkan sebelum tahun 1914 di kawasan itu terdapat papan penunjuk arah berukuran besar yang berbentuk tangan yang dibuat oleh Belanda.

Kedua, disaat mulai berkembangnya kawasan alun-alun, di ujung jalan arah alun-alun terdapat pohon yang menyerupai tangan. Karena itu kawasan tersebut lantas disebut Kayutangan.

Entah mana yang menjadi dasar. Yang jelas, nama Kayutangan (Kajoetangan) banyak terdapat di buku laporan Belanda tahun 1890 hingga masih diucapkan sampai sekarang. Kompleks pertokoan di sepanjang Jalan Kayutangan (sekarang Jalan Basuki Rahmad) mulai dari pertigaan depan PLN sampai di depan Gereja Katolik Kayutangan dibangun antara tahun 1930-1940, yang saat itu bergaya atap datar dan berbentuk kubus.

Sampai sekarang kompleks pertokoan ini masih relatif terjaga keasliannya. Sekitar 1960-1970-an pertokoan itu membuat pusat keramaian di Kota Malang dengan ragam usaha. Antara lain, perdagangan umum, perkantoran, gedung bioskop, pakaian jadi, kelontong, dan lain-lain.

Di sepanjang Jalan Kayutangan terdapat perempatan yang terkenal, yang dulu sering disebut perempatan Rajabaly. Yang menarik adalah keunikan bentuk arsitektur pertokoannya yang terdapat tepat di perempatan Jalan Kayutangan (sekarang Jalan Basuki Rahmat, Jalan Kahuripan, dan Jalan Semeru).

Pertokoan itu dibangun pada tahun 1936 oleh arsitek Karel Bos. Bentuk kembar bangunan sebelah kanan dan kiri itu bukan hanya menggambarkan pintu gerbang menuju Jalan Semeru, tapi menurut beberapa tokoh masyarakat di sana, bangunan kembar tersebut terinspirasi dari sang arsitek yang baru dikaruniai putra kembar.

Gaya arsitektur yang beraliran Nieuwe Bouwen itu mempunyai menara di atas bangunan yang berfungsi sebagai tempat pengamatan sekitar.

Beberapa kejadian yang menggunakan akses Kayutangan sebagai jalan utama antara lain, prosesi penyerahan kekuasaan Belanda kepada Jepang pada 27-28 Februari 1942. Sebelumnya, sekutu Belanda menyerah kalah di Laut Jawa pada 1 Februari 1942.

Ketika itu, pukul 04.00 pasukan Jepang memasuki Pulau Jawa di empat Pesisir Laut Utara. Invasi Jepang di Jawa Timur dipimpin oleh Letnan Jendral Tsuchihashi Yuitsu dengan total pasukan 20.000 orang. Pasukan Belanda Divisi III yang tersisa pimpinan Mayor Jendral G.A.Ilgen terkonsentrasi di Ngoro.

Di Malang, batalyon marinir yang dipimpin oleh W.A.J mundur ke Dampit. Tahun 1942 diberlakukan Milisi (Wajib Militer). Program milisi itu mempersenjatai kaum pelajar untuk melawan pasukan Jepang. Tanggal 8 Maret 1942, Malang dinyatakan sebagai kota terbuka. Sekali lagi jalan tempat konsentrasi masa saat itu berada di Jalan Kayutangan.

Sore harinya negosiator Jepang menuntut Belanda untuk menyerah tanpa syarat.

Maka Letnan Jendral Ter Poorten menyerah kepada Nippon. Kemudian pasukan Jepang memasuki Malang. Pada fase I penguasaan Jepang di Malang diadakan parade di Ijen Boulevard melewati Kayutangan.

Saat itu semua rakyat mengelu-elukan Jepang sebagai penyelamat dan menjanjikan kemakmuran yang baik dengan slogan “Asia untuk Orang Asia” yang tak lain propaganda Jepang. Pada 9 Maret 1942 pukul 03.00 dini hari, Residen Malang G. Schwenkcke menyebarkan selebaran. Jika ditulis dengan bahasa sekarang: “Pendudukan pasukan Dai Nippon akan datang dalam beberapa jam untuk menenangkan kota supaya tidak ada pertempuran. Maka saya akan minta komandan Dai Nippon untuk membolehkan tugas-tugas pekerjaan politik”.

Jepang lantas mengeluarkan perintah larangan untuk mengibarkan bendera Belanda, mendengarkan radio siaran luar negeri dan memasang gambar Ratu Belanda serta anggota kerajaan Belanda.

Pada 16 Maret 1942 diumumkan pengurangan gaji pegawai yang drastis, pakaian dan barang-barang berharga disita. Semua sekolah pendidikan Belanda ditutup. Semua uang di bank dipindah ke Javasche Bank (sekarang Bank Indonesia). Krisis keuangan di mana-mana.

pada 30 Juli 1947 di Jakarta, The Nieuwsqier menuliskan bahwa masyarakat, polisi dan pemerintah Malang mencoba menghalang-halangi pasukan Belanda, tetapi kemudian dapat dikalahkan.

Pada 31 Juli 1947, surat kabar nasional di Jogjakarta menulis, jika diterjemahkan secara bebas adalah: “Di Malang ada taktik bumi-hangus yang diterapkan besar-besaran dan diperkirakan 1.000 bangunan balanda dan instalasi strategis dihancurkan dengan cara dibakar dan diledakkan dengan sisa-sisa bom milik Dai Nippon.

Patung Chairil Anwar di Kayutangan

Patung-Chairil-Anwar

Sebelum perang 1947, Malang mempunyai cara unik dalam berperang, yakni tidak dengan senjata, tetapi dengan pena. Untuk selalu mengobarkan semangat para pemuda, atas gagasan seorang pemuda A.Hudan Dardiri, dibangunlah patung penyair binatang jalang kelahiran Medan Chairil Anwar.

Sengaja patung ini dibangun di tengah-tengah poros jalan utama waktu itu, Kayutangan. Dibangun pada tanggal 28 April 1955, diresmikan oleh Wali-kotamadya Malang Sardjono. Saat itu Kayutangan diyakini sebagai jalan persimpangan yang selalu dilewati semua pejuang Malang.

Karena itu, sangat strategis jika ingin menyampaikan pesan apapun kepada masyarakat Malang lewat Jalan Kayutangan. “Biar peluru menembus kulitku, aku tetap meradang, menerjang…”. Ini adalah cuplikan puisi Chairil Anwar yang menggambarkan semangat perjuangan seorang seniman lewat karya sastranya.

Di Malang, peran aktif seniman dalam membangkitkan api perjuangan sangat dihargai. Tepat di ujung Jalan Kayutangan juga terdapat bangunan yang juga menjadi saksi sejarah Kota Malang, yakniGedung Societeit Concordia.

Gedung ini patut dijuluki sebagai cikal bakal sejarah Malang, karena menjadi tempat tinggal pertama bupati sekaligus menjadi tempat berkumpul pertama warga Belanda saat mulai berani keluar dari benteng pertahanan di Celaket.

Berdasar Surat Resolusi pada 31 Oktober 1820 Nomor 16 (Bupati Soerabaia, 1914) menyatakan bahwa tempat yang sekarang menjadi Sarinah Mall itu adalah Rumah Dinas Raden Panji Wielasmorokoesoemo. Setelah diangkat menjadi Bupati Malang dan Ngantang, lantas berganti nama menjadi Raden Toemenggoeng Notodiningrat.

Jadi, Kantor Kabupaten Malang sebelum berada di lokasi sekarang (Jalan H.Agus Salim), awalnya berada di tempat itu sampai tahun 1839 bersamaan dengan wafatnya beliau. Setelah itu tempat bekas pendapa kebupaten ini diambil oleh Belanda kemudian dijadikan Gedung Societiet Concordia. Dibangun sebelum tahun 1900 dengan gaya Indishe Empire yang bercirikan kolom-kolom Yunani Kuno.

Setelah tahun 1914, setelah Malang menjadi kotapraja, gedung tersebut dirobohkan dan digantikan dengan model bangunan kolonial modern untuk mengakomodasi kebutuhan tempat rekreasi warga Belanda. Di sana disediakan seperti meja tempat main kartu, meja biliar, perpustakaan, gedung pertemuan dan ice skating di atap yang datar, dan pada saat tertentu dilapisi es (Ong Kian Bie).

Pada tahun 1947, gedung yang pernah dipakai sidang KNI pusat itu dibumihanguskan dalam rangka strategi perang gerilya dan tahun 1948 gedung tersebut diratakan dengan tanah, lalu dibangun gedung gedung baru untuk pusat pertokoan pertama di Malang yang sekarang bernama Sarinah. Nama Sarinah diciptakan oleh Presiden Soekarno yang berarti abdi masyarakat.

Pertokoan Kayutangan memberikan berkah kepada penduduk pribumi yang mengais rezeki sebagai pegawai toko di Kayutangan. Selai itu juga menjadi tempat pertemuan penduduk Eropa dan pribumi atas nama ekonomi sejak sebelum tahun 1900.

Jika mengacu pada buku Stadsgemeente Malang (1914-1939), penduduk Malang tahun 1914 terdiri dari tiga golongan. Yakni, pribumi, 40.000 jiwa, Eropa 2.500 jiwa dan Timur asing 4.000 jiwa. Daerah penyebarannya meliputi, orang Eropa di barat daya alun-alun (Talun, Tongan, Sawahan, Kayutangan, Oro-oro Dowo, Celaket, Klojenlor, dan Rampal).

Orang-orang China menempati daerah Pecinan, orang-orang pribumi di daerah Kebalen, Temenggungan, Jodipan, Talun, dan Klojen Lor. Daerah Kayutangan yang memang diperuntukkan orang Eropa mempunyai ciri bangunan hanya terdapat di pinggir jalan besar, berbentuk kubus dan mempunyai jalan kecil atau gang ke belakang untuk memudahkan mengawasi lingkungan sekitar.

Bentuk penataan yang demikian itu dimanfaatkan penduduk pribumi sebagai tempat bersandar di lingkungan belakang pertokoan ramai untuk mendekatkan diri mencari peluang usaha (karyawan yang bekerja di Jalan Kayutangan) yang dibutuhkan oleh kaum Eropa di pinggir jalan. Kondisi tersebut akhirnya berubah sekaligus menjadi tempat tinggal untuk menetap.

Dalam perkembangannya, jalan-jalan kecil (gang) di belakang pertokoan Kayutangan itu mempunyai aktivitas tradisi petan (mencari kutu rambut) bagi ibu-ibu.

Sekarang Kayutangan lambat laun tertutupi dengan papan iklan dan bangunan pertokoannya berganti kepemilikan yang beresiko untuk dibongkar dijadikan model pertokoan yang modern. Padahal jika semua pihak mengerti untuk mengembalikan bentuk aslinya dengan membuka façade iklan di depannya, bukan tidak mungkin predikat Kayutangan sebagai komplek paling ramai dan paling bergengsi akan disandang kembali. Semoga.

KISAH SEJARAH KOTA MALANG YANG TAK BANYAK TERUNGKAP (2)

Balai Kota Malang Dirancang Arsitek Dari Surabaya

IMG_2862

Alon –alon asal kelakon artinya perlahan tetapi pasti. Namun, jika alon-aloon, artinya justru sangat berbeda. Aloon-aloon dari bahasa Belanda yang artinya lapangan terbuka. Di Malang ada dua alun-alun yang berada di depan kantor bupati dan balai kota. Bagaimana sejarahnya?

Zaman Hindu-Budha, alun-alun telah dikenal (dalam kitab negara Kertagama, Red). Asal usul kata dari kepercayaan masyarakat tani yang setiap kali ingin menggunakan tanah untuk bercocok tanam, maka haruslah dibuat upacara minta izin kepada dewi tanah dengan jalan membuat sebuah lapangan tanah sakral yang berbentuk persegi empat dan sekarang dikenal masyarakat sebagai alun-alun.

Pada masa Kerajaan Mataram, di alun-alun depan istana rutin diperuntukkan rakyat Mataram jika ingin menghadap penguasa. Alun-alun pada masa itu sudah berfungsi sebagai pusat administrative dan sosial budaya bagi penduduk pribumi.

Khusus Malang, Kantor Residen Menghadap Ke Selatan

Masyarakat berdatangan ke alun-alun untuk memenuhi panggilan atau memdengarkan pengumuman atau melihat unjuk kekuatan berupa peragaan bala prajurit dari penguasa setempat. Fungsi sosial budaya dapat dilihat dari kehidupan masyarakat dalam berinteraksi satu sama lain, apakah dalam perdagangan, pertunjukan hiburan, atau olahraga.

Untuk memenuhi seluruh aktivitas dan kegiatan tersebut, alun-alun hanya berupa hamparan lapangan rumput yang memungkinkan berbagai aktivitas dapat dilakukan. Pada masa masuknya agama Islam, seperti di alun-alun Malang, Masjid Jamik dibangun di sekitar alun-alun.

Alun-alun juga digunakan sebagai tempat kegiatan-kegiatan hari besar Islam termasuk sholat Idul Fitri. Pada zaman pra-kolonial, baik kota pusat kerajaan di pedalaman atau di pesisir, dibangun berdasar konsep tata ruang yang sama, yakni adanya lapangan luas yang ditengahnya ditanam satu atau dua buah pohon beringin yang disebut alun-alun (Santoso, 1984).

Sistem kaidah yang dipakai orang Jawa disebut Hasta Brata dikenal juga dengan ungkapan Kiblat Papat Limo Pancer, yakni keseluruhan ruang dibagi menjadi 4 atau 8 bagian. Pengelompokan dibuat berdasar padanan hal positif negative, unsure air di timur dan api ditempatkan di barat. Pusat duangan dipandang sebagai pusat dunia. (Sartono Kartodirdjo, 1987).

Nah, itulah sebabnya kenapa hampir semua pusat kota di Jawa mempunyai bentuk struktur yang hampir sama, pendapa bupati, masjid jamik, penjara, dan kantor residen (bupati). Sebelah selatan merupakan daerah sacral dan sebelah utara merupakan daerah profane.

Karena itu, di semua alun-alun, rumah bupati selalu diletakkan di selatan, kecuali di Malang yang ditempatkan sebelah timur menghadap ke selatan. Tidak jelas alasannya, tapi kemungkinan karena Malang dikenal daerah dengan pertahanan yang kuat. Sehingga tidak perlu diawasi langsung oleh residen.

Alun-alun Malang didirikan tahun 1882 (Kotapraja Malang, 1964). Jika sejarah itu benar, maka jelas pembangunan alun-alun Malang untuk kepentingan Belanda yang menjadikan alun-alun sebagai pusat kontrol. Hampir semua kegiatan produksi ekonomi terkumpul di sana.

Belanda sengaja menempatkan kantor bupati berhadapan dengan asisten residen (wakil bupati) yang kantornya di selatan alun-alun (sekarang Kantor Perbendaharaan dan Kas Negera). Dan, di sebelahnyamasjid jamik yang berhadapan dengan penjara. Maksud setiap saat residen dapat mengontrol kegiatan bupati dan penduduk yang selalu berkumpul di pendapa bupati atau masjid jamik.

Karena alun-alun dipandang sebagai pusat kegiatan kota, maka secara tidak langsung pola pemukiman juga menyesuaikan dengan kondisi tersebut. Pemukiman orang Eropa di sebelah barat daya (Talun, Tongan, Sawahan), orang China di sebelah tenggara (Pecinan), Arab terletak di belakang Masjid (Kauman), dan pribumi di daerah Kebalen, Temenggungan, Jodipan. Sekarang dengan berkembangnya pembangunan kota Malang, keramaian kota menjadi terpecah.

Desain Balai Kota Disayembarakan, Tak Ada Yang Menang

Nah, kata aloon-aloon telah kita bahas arti, fungsi dan asal-usulnya. Terus sekarang, kenapa di Malang terdapat dua alun-alun? Bukankah satu sudah cukup, karena luas tanah dan perkembangan tahun 1900 masih memungkinkan untuk dioptimalkan.

Terus kalau dibilang tidak cukup, ya tidak cukup. Alasannya, pertumbuhan Malang ke depan sebagai contoh kota pusat pemerintahan dengan desain tata kota yang baik mempunyai satu syarat, yakni lingkungan yang kondusif.

Di Malang dirasa tidak memungkinkan lagi digabungkan pusat kota dengan pusat pemerintahan. Pusat kota telah berkembang sedemikian cepat dengan bertumbuhnya pusat ekonomi, hiburan, keagamaan dan sosial. Sedangkan pusat pemerintahan seiring dengan tumbuhnya Kota Malang harus segera membangun gedung pusat pemerintahan satu atap (block office).

Pada 26 April 1920 pihak Gemeente (Kotapraja) Malang memutuskan untuk membuat daerah pusat pemerintahan baru yang sekarang kita kenal dengan alun-alun bunder atau sekarang kita kenal dengan Alun-alun Tugu sesuai dengan bentuk tanah lapang yang berbentuk bundar.

Sebelum tahun 1914 Malang masih merupakan daerah bagian dari Keresidenan Pasuruan dan kekuasaan tertinggi di Malang adalah sisten residen. Setelah kota Malang dinaikkan statusnya menjadiGemeente (kotamadya) tanggal 1 April 1914, Kota Malang berhak memerintah daerah sendiri dengan dipimpin oleh seorang burgemeester (wali kota). Jabatan wali kota waktu itu dirangkap asisten residen sampai 1918. Baru tahun 1919 Malang mempunyai wali kota pertana H.I Bussemaker.

Setelah selesai dibangun alun-alun bundar, Malang masih belum mempunyai kantor pemerintahan yang permanen dan berwibawa. Pada tanggal 26 April 1920 dibuat perencanaan perluasan kota yang di dalamnya termasuk pembangunan gedung balai kota sebagai tempat pemerintahan yang baru.

Gagasan perencanaan itu timbul setelah wali kota mengadakan sayembara perencanaan Balai Kota Malang dengan juri Ir.W.Lemei, Ph.N. Te Winkel dan Ir.A.Grunberg. Dari 22 peserta lomba, tidak ada satupun yang memenuhi syarat.

Maka tanggal 14 Februari 1927 diputuskan oleh dewan kota agar rancangan yang paling baik diadakan perubahan dan segera dilaksanakan pembangunan dengan anggaran F.287.000. Rancangan yang akhirnya dipakai adalah karya H. F Horn dari Semarang dengan motto Voor de Burgers van Malang (Untuk Warga Malang).

Pembangunan balai kota dilaksanakan pada 1927-1929 dan mulai ditempati September 1929 oleh wali kota kedua Ir.E.A Voorneman, Ruang wali kota dirancang sendiri oleh C.Citroen dari Surabaya yang sampai sekarang masih terlihat megah.

Bangunan yang tetap dipertahankan keasliannya ini menjadi bangunan cagar budaya di Malang yang dirancang bersama-sama para arsitek terkenal di Jawa saat itu. Nah, keinginan untuk mempunyai dua alun-alun telah kelakon meskipun dengan alon-alon. Menurut saya lebih alon-alon asal kelakon, tapi kelakonnya dengan hasil yang perfect dari pada ora alon-alon ora kelakon (cepat tapi tidak sesuai harapan). Tinggal sekarang bagaimana kita memanfaatkan kelakon itu dengan cerdas.

KISAH SEJARAH KOTA MALANG YANG TAK BANYAK TERUNGKAP (3)

Lahir Prematur, 5 Tahun Kota Malang Tak Punya Wali Kota

Benarkah bahwa kelahiran Kota Malang itu disebut sebagai kelahiran yang prematur?

Dari catatan sejarah, pada 1 April  1914 (ditetapkan sebagai hari jadinya Kota Malang) itu sebenarnya Kota Malang belum matang untuk dilahirkan. Sebab, saat itu belum mempunyai dewan kota, dan belum punya burgemester (wali kota).

Bahkan sampai 1919, belum punya kantor pemerintahan (balai kota) dan belum punya beberapa fasilitas layaknya sebuah kota mandiri.

Ibarat kelahiran seorang bayi, ibu bidan belum datang, belum ada popok dan pas suami keluar kota. Bisa dibayangkan, bagaimana rumitnya persalinannya itu. Hal tersebut terjadi karena Kawedanan Kotta (Kota Malang) terlalu cepat tumbuh berkembang setelah ditetapkan menjadi a full blown town (kota yang dewasa) pada 1905. Bahkan pertumbuhannya melebihi daerah lain di Jawa (Gedenkbook Gemeente, 1939).

Sehingga, mau tidak mau, siap tidak siap, harus memisahkan diri dari Kabupaten Malang untuk memerintah diri sendiri. Angka pertumbuhan penduduk, perpindahan penduduk, dan pertumbuhan ekonominya, semua bergerak dengan cepat. Bank, hotel, tempat hiburan (societeit), sekolah, rumah klinik muncul di beberapa tempat.

Hal ini dikhawatirkan jika tidak segera dibentuk pemerintahan sendiri yang kredibel, maka akan menjadi permasalahan sosial yang sulit diatasi di kemudian hari. Untuk itu berdasar keputusan Instellings-Ordonnantie pada 1914 Staatsblad Nomor 297, Malang ditetapkan menjadi gemeente (kotapraja) dan sampai sekarang diperingati sebagai hari ulang tahun Kota Malang.

Pada awal 1914 Kota Malang adalah bagian dari Kabupaten Malang di bawah jajahan pemerintah Belanda. Kabupaten Malang mempunyai 8 distrik atau kawedanan. Yakni Kawedanan Karanglo, Pakis, Gondanglegi, Penanggungan, Sengoro Antang (Ngantang), Turen, dan Kawedanan Kotta.

Sedangkan Kabupaten Malang sendiri menjadi bagian dari Karesidenan Pasuruan bersama Kabupaten Bangil dan Kabupaten Pasuruan berdasar Staatsblad Nomor 6 Tahun 1819.

Pada saat itu Kawedanan Kotta dibagi menjadi 13 kampoong, yakni Kidulpasar, Taloon (Talun), Kahooman (Kauman), Leddok, Padeyan, Klojen, Lor Alun, Gadang, Tameengoonhan (Temenggungan), Palleyan (Polean), Jodeepan (Jodipan), Kabalen dan Cooto Lawas (Kota Lama).

Tahun 1800 setelah kebangkrutan VOC, Kabupaten Malang masih dirasa merupakan wilayah yang kurang menarik untuk dijadikan tempat tinggal. Pemerintah Belanda saat itu hanya memfungsikannya sebagai daerah pertahanan (terugval basis) tanpa punya nilai ekonomis yang tinggi.

Malang kemudian menjadi primadona Belanda dan menjadikannya kota terbesar kedua di Jawa Timur setelah diberlakukannya Undang-Undang Gula (Suikerwet) dan Undang-Undang Agraria(Agrarischewet) pada 1870 yang memberikan kebebasan masyarakat luas untuk dapat menyewa lahan sampai dengan 75 tahun.

Saat itu sebagian besar orang Belanda berbondong-bondong datang ke Malang untuk  menanam kopi untuk kebutuhan ekspor ke Eropa yang bernilai sangat tinggi dan suiker (gula tebu). Malang dianggap daerah yang subur, mempunyai udara sejuk dan mempunyai akses jalan utama ke pelabuhan Surabaya.

Dilanjutkan dengan dikeluarkannya Undang-Undang Desentralisasi (Decentralisatiewet) pada tahun 1903 yang kemudian ditetapkan pada 1905 yang intinya memberikan hak pemerintahan sendiri kepada karesidenan dan kabupaten (afdeling) yang diperintah oleh dewan wilayah (kabupaten) dan dewan kotapradja (gemeenteraad).

Sedangkan ketua dewan wilayah adalah seorang residen dan ketua dewan kotapradja adalah seorangburgemeester (wali kota). Pada 1914 wali kota masih dirangkap Asisten Residen F.L Broekveldt digantikan oleh J.J. Coert sampai 1919 dengan terpilihnya Mr. H.I. Bussemaker sebaga Wali Kota Malang yang pertama.

Perlu diketahui, karena prestasinya membangun Kotapraja Malang, H.I. Bussemaker setelah menjabat dua periode (1919-1929) dipercaya menjadi Wlikota Surabaya pada 1 Maret 1929.

Sebenarnya untuk ukuran kota yang baru berdiri, Kota Malang telah mencatat prestasi yang luar biasa. Bayangkan, dalam 9 tahun sejak diberlakukannya beberapa undang-undang, Kota Malang yang dulunya menjadi bagian dari Pasuruan, melejit menjadi kota terbesar kedua di Jawa Timur.

Belum lagi prestasi-prestasi di bidang lainnya. Tetapi ternyata perkembangan yang sedemikian pesat itu tidak membuat pemerintah puas diri. Karena tingkat kemandirian di beberapa bidang, proses penetapan dalam sistem pengambilan keputusan masih tergantung pada pemerintah yang lebih tinggi.

Meskipun sama-sama orang Belanda, Wali Kota Malang didukung 40.000 orang penduduk (33.500 pribumi, 2.500 Belanda, dan 4.000 China, dan Arab) sangat berani untuk mengajukan beberapa hal yang kontroversial. Seperti melakukan reformasi pemerintahan (bestuurs-hervormings-ordonnantic, 1922) dari sistem desentralisasi menjadi dekonsentrasi yang memperoleh wewenang mengatur daerah lebih besar dan kotapraja (gemeente) diganti dengan staadsgemeente.

Pada saat Pulau Jawa dibagi menjadi 3 bagian, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur (Provincie-Ordonnantic Tahun 1926), Kota Malang menjadi pemimpin ibu kota Karesidenan, membawahi Kabupaten Pasuruan, Probolinggo dan Lumajang.

Nah, kalau saat lahir luasnya 15,03 kilometer persegi dengan jumlah penduduk 40 ribu orang, sekarang menjadi 110 kilometer persegi dengan jumlah 820.000 orang. Saatnya di ulang tahun kali ini Kota Malang dapat membuktikan kelahiran prematur itu membuat dewasa lebih cepat atau tidak sepat dewasa?

KISAH SEJARAH KOTA MALANG YANG TAK BANYAK TERUNGKAP (4)

Empat Tahun Pemerintahan Kota Ngurusi Ke Bantur

balai-kota

Kondisi Kota Malang luluh lantak  dalam peristiwa bumi hangus tahun 1947, Pemerintah Kota Malang pun morat-marit dan pegawai dibagi dalam dua kelompok. Dan, tahukah jika pemerintahan kota sempat pindah ke Bantur, Malang Selatan. Mengapa itu dilakukan? Serta berapa bangunan yang hancur dalam peristiwa 1947?

Kalau Bandung lautan api ada lagunya, sedangkan Malang tidak punya. Jadi kurang dikenal atau kalah ngetop dengan Bandung. Semua tahu pada 1945 Indonesia sudah merdeka, tapi masih belum sepenuhnya diakui oleh dunia internasional.

Sehingga Belanda masih mengklaim sebagai negara jajahannya setelah direbut Jepang tahun 1942. Dua tahun setalah itu, Belanda memutuskan untuk kembali menguasai daerah Jatim, khususnya Malang. Karena sesuai sifat dasarnya sebagai daerah pertahanan, Malang harus dikuasai dulu baru kota lain.

Kota Paling Aman, Tokoh Nasional Berkumpul Dalam Kongres KNI

Namun, peperangan yang hanya memakan waktu beberapa hari itu mengubah wajah kota dan menorah tinta sejarah yang demikian dalam. Detik-detik peristiwa tersebut  sangat menegangkan. Jika skenarionya diadopsi menjadi sebuah naskah film, maka akan menjadi film kolosal yang menegangkan.

Peristiwa tersebut berawal pada 31 Juli 1947 sekitar pukul 03.00. Tentara Belanda melakukan penyerangan yang sangat hebat di Kota Malang sampai akhirnya status Malang yang sebelumnya kota merdeka, kembali menjadi kota pendudukan Belanda.

Peristiwa tersebut dikenal dengan nama aksi militer atau Crash I. sebelum kedatangan pasukan Belanda di Malang, hampir 1.000 bangunan Belanda dibumihanguskan

termasuk Balai Kota Malang (Bleed van en Stad) dan pemerintahan kota dipindah sementara ke Palace Hotel (sekarang Hotel Pelangi).

Selanjutnya pegawai dibagi menjadi dua golongan, golongan luar kota, dan golongan yang berjuang di dalam kota. Setelah dirasa kondisi sangat tidak memungkinkan, sebagian besar pindah ke Sumberpucung dan Gondanglegi. Pemerintahan kota akhirnya juga dipindah di Bantur sampai terjadi Clash II pada 1948.

Pejuang yang tergabung dalam tentara pelajar TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) banyak yang gugur  meninggalkan bekas ‘massagraf’ di Jalan Salak (Jalan Pahlawan Trip). Rakyat sendiri mengungsi ke daerah selatan (Tumpang, Wajak, Turen, Gondanglegi, Pakisaji, Kepanjen sampai Blitar) dan daerah barat (Batu, Pujon, dan Ngantang) sampai penyerahan kedaulatan pada 27 Desember 1949.

Sebelumnya pada September 1949 beberapa orang dari Malang Selatan, antara lain Letkol Dr. Soedjono diundang ke Surabaya untuk menerima pengembalian daerah karesidenan Malang termasuk Kota Malang. Pemerintahan Kota Malang kembali di gedung balai kota pada tanggal 2 Maret 1950.

Sementara itu ketentaraan dan kepolosian telah mendahului memasuki kota dan bermarkas di Hotel Trio (bekas kantor dispenda depan Stasiun Kota Baru). Dari perintiwa itu telah memunculkan nama-nama pahlawan lokal, antara lain Hamid Roesdi.

Hamid Roesdi, Pahlawan Tiga Masa

Hamid Roesdi dikenang sebagai sosok pahlawan tiga masa. Yakni, masa penjajahan Belanda, Jepang, dan kemerdekaan yang sangat konsisten memperjuangkan hak-hak rakyat. Beliau lahir pada Senin Pon 1911 di Desa Sumbermanjingkulon, Pagak, Kabupaten Malang.

Pada masa penjajahan Belanda, dia sangat aktif di bidang kepanduan dan tergabung dalam “Pandu Ansor”, karena beliau juga seorang guru agama sekaligus staf Partai NU. Beberapa tahun kemudian bekerja di Malang sebagai sopir di Penjara Besar Malang (LP Lowokwaru).

Pada 8 Maret 1942 Jepang memasuki Kota Malang dan mulai memerintahkan membuat barisanHeiho, Seinedan, Keibodan, dan Djibakutai sekaligus melakukan tekanan fisik pada rakyat. Melihat situasi itu, Hamid Roesdi keluar dari pekerjaannya dan memulai membela nasib rakyat dengan menyusup ke PETA (Pembela Tanah Air) pada 1943 yang dibentuk atas usul Gatot Mangkupraja. Dia ditugaskan di Malang dengan pangkat Sudanco (Letnan I).

Selain berlatih militer, dia juga sibuk mempersiapkan lascar rakyat untuk menentang Jepang. Pada malam hari tanggal 3 September 1945 diumumkan daerah Karesidenan Surabaya masuk wilayah RI, Hamid Roesdi mulai melucuti tentara Jepang di Malang. Pada 1946 menjabat sebagai perwira staf Divisi VII Suropati dengan pangkat mayor dan bertempat tinggal sementara di Jalan Semeru (sekarang Bank Permata).

Dianggap berhasil menangani pelucutan tentara Jepang, kamudian diangkat sebagai Komandan Balyon I Resimen Infanteri 38 Jawa Barat dan menyelesaikan pertempuran di sana dengan sukses. Sekembalinya dari Jawa Barat dinaikkan pangkatnya letnan colonel menjadi komandan pertahanan daerah Malang di Pandaan-Pasuruan.

Pada Clash I 1947 Hamid Roesdi dengan gigih memimpin pasukan mempertahankan Kota Malang dari Tentara Belanda. Sebelum Belanda memasuki Pandaan, Hamid Roesdi berkeliling kota menaiki jeepuntuk memerintahkan seluruh rakyat membumihanguskan bangunan Belanda.

Ketika Kota Malang tidak dapat dipertahankan lagi, beliau membuat pertahanan di Bululawang dan menyusun strategi merebut Malang kembali. Tengah malam, 8 Maret 1949, kondisi perang sangat genting. Hamid Roesdi datang dan berpamitan pada istrinya, Siti Fatimah. Itulah pertemuan terakhir dengan istrinya dan tidak pernah kembali lagi selama-lamanya (biografi pahlawan Hamid Roesdi, Bintaldam V Brawijaya 1989).

Istilah Perwira Dan Taruna Lahir Dari Malang

IMG_1020 - Copy

Selain pahlawan Hamid Roesdi, peran penting dalam pertempuran 1947 adalah pasukan TRIP yang tergabung dari beberapa sekolah. Pada saat pendudukan Jepang di Jawa Timur 1942, telah banyak pelajar yang aktif mengikuti latihan perang-perangan di sekolah. Dan setelah Jepang menyerah terjadi pelucutan senjata, lahirlah organisasi-organisasi pelajar di Surabaya. Saat insiden bendera di Oranje Hotel 19 September 1945, para pelajar mulai aktif dan mulai mengeluarkan perintah tempur. Pada 5 Oktober 1945 terbentuklah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pelajar, selanjutnya berubah menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) pelajar dengan komandan Mas Isman dengan Batalyon 1.000-5.000 meliputi Surabaya, Mojokerto, Bojonegoro, Madiun, Kediri, Blitar, Jember, dan Malang.

Pada tahun 1949 kekuasaan TRIP berpusat di Blitar. Kapten Sukamto ditunjuk sebagai local joint committee united nation. Dan pada 1949-1950 TRIP Jawa Timur dimobilisir lewar Brigade 17 (Kopex 17). Di malang terdapat monumen perjuangan TRIP untuk menghormati tentara pelajar yang menjadi korban pertempuran di Jalan Salak (Jalan Pahlawan TRIP) melawan Belanda pada 31 Juli 1947. Sekarang monumen tersebut berdiri tegak di sekitar Jalan Ijen berdampingan dengan monumen Melati yang berada tepat di poros Jalan Ijen dengan tinggi 7 meter dengan bunga Melati di pundaknya.

Monumen ini adalah bentuk penghargaan terhadap sekolah darurat awal pembentukan TKR (sekarang TNI) di daerah yang diberi nama Sekolah Tentara Divisi VIII pada tahun 1946. Namun Divisi VIII berganti nama menjadi Sekolah Tentara Divisi VII Suropati dengan simbol melati.

Di Malang sekolah ini lebih dikenal dengan nama Sekolah Kadet Malang, karena siswanya biasa disebut dengan Kadet. Gagasan pendirian sekolah ini berawal dari Kepala Staf Operasi Divisi VIII Mayor Mutakad Hurip setelah beliau pulang dari pertempuran di Surabaya yang pertama atau sebelum meletus pertempuran kedua 10 November 1945.

Pembukaannya diumumkan oleh Mayor Jendral Imam Sujai selaku komandan divisi VIII pada awal Novemnber 1945. Ditegaskan lulusan Sekolah tentara Divisi VII Malang sama dan sederajat dengan akademi militer di Yogyakarta. Istilah Perwira pengganti Opsir dan istilah Taruna pengganti Kadet diakui nasional juga terlahir dari Malang. Karena Kota Malang dalam bidang istilah bahasa memang selangkah lebih maju.

Hal ini dapat dilihat pada syair lagu mars kadet Malang yang berjudul “Mars Taruna Perwira” (Moehkardi, 1979:192). Sekolah Tentara mula-mula menempati bekas gedung Meisjes HBS, beberapa bulan kemudian pindah ke gedung Eropees che Lagere School (Susteran Corjesu) dan setelah sekolah ini benar-benar tidak mampu menampung peminat, akhirnya pindah ke bekas Asrama Marine Belanda di Jalan Andalas, kompleks Angkatan Laut sampai tahun 1947.

Jika kita mengingat apa yang telah terjadi pada 1947 memang telah mengubah wajah sejarah Kota Malang. Betapa tidak, hampir 1.000 bangunan dihancurkan, semua infrastruktur harus dimulai dari awal. Hampir semua sarana dan prasarana setelah tahun tersebut tidak berfungsi.

Semua berfikir sepertinya peperangan berlangsung terus tanpa ada habisnya dimulai 1942. Ternyata banyak juga peristiwa membanggakan yang juga sangat memberikan dampak positif kepada nama besar Kota Malang. Salah satu peristiwa penting yang diselenggarakan di gedung Concordia Malang ini adalah Kongres KNI Pusat.

Rapat besar cikal bakal DPR-RI tingkat nasional ini membuktikan bahwa Kota Malang sangat layak menjai tempat diselenggarakannya even nasional itu terutama dari sisi keamanannya. Mengingat saat itu hampir semua wilayah di Indonesia tidak terjamin keamanannya karena pasukan Belanda menginginkan kembali daerah jajahannya.

Rapat besar ini diadakan pada 25 Februari sampai 5 Maret 1947 membahas masalah-masalah penting yang menjadi agenda perjuangan bangsa Indonesia. Saat itu dengan dihadiri tokoh-tokoh, Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Edward FE Douwes Dekker (Dr. Setyabudi), Ki Hajar Dewantoro (pendiri Taman Siswa), Dr. Soetomo, Panglima Soedirman, Bung Tomo dan para pembesar wakil negara-negara di dunia.

Rakyat berkumpul dan mengelu-elukan kehadiran para tokoh di depan Stasiun Kota Baru sampai di depan gedung Corcodia ini. Jan Bouwer dari Nieuwsgier menulis di media internasiional, “De ontvangst der buitenlandsche gasten was allervoorkomendst en niets werd nagelaten om het hun zoo aangenaam mogelijk te maken”. Penerimaan terhadap tamu luar negeri sangat manis dan segala sesuatu diusahakan untuk menyenangkan mereka sedapat mungkin. Rupanya nama besar Kota Malang menjadi daya tarik tersendiri sebagai tempat penyelenggaraan dengan dibuktikan jumlah tamu yang diundang 1.000 orang, tapi tamu yang hadir lebih dari 1.500 orang.

Semua penginapan dan hotel di Malang dan Batu penuh sesak, bahkan tidak jarang tamu peserta masih ingin tinggal lebih lama setelah acara usai. Malang bumihangus adalah sisi kelam sejarah Kota Malang yang mau tidak mau harus diketahui oleh masyarakat sebagai bahan pembelajaran bahwa Malang tidak pernah menyerah dalam mempertahankan kotanya.

Kota Malang selalu bersatu meskipun terdiri dari beberapa suku, ras, dan pendidikan. Sekarang adakah sifat-sifat dasar masyarakat dan Pemerintah Kota Malang yang sudah teruji memenangkan semua pertempuran itu muncul kembali dalam membangun kotanya?

KISAH SEJARAH KOTA MALANG YANG TAK BANYAK TERUNGKAP (5)

Jalan Ijen Kawasan Paling Indah Bagi Hindia Belanda

ijen_boulevard_th-1950

Perancanaan pembangunan Kota Malang telah dirumuskan secara detail mulai tahun 1917 sampai 1929. Nah, ada delapan tahapan dalam perencanaan Kota Malang. Termasuk perumahan pertama yang berada di daerah Celaket hingga mengapa perumahan elit Jalan Ijen berada di wilayah barat balai kota?

Sering kali terdengar banyak slogan tentang Malang. Entah dari seorang guru yang sedang mengajar, para pemandu wisata atau pejabat pemerintahan yang mengatakan Malang Kota Bunga, Malang Kota Pendidikan, Malang Paris Van Java (mungkin maksudnya Jawa Timur), Malang Kota Pegunungan, kota transit, kota pension dan banyak sebutan lainnya yang membuat kita berpikir.

Gerbang Makam Eropa Kini Tertutup SPBU

Sebenarnya slogan, predikat atau sekarang dikenal dengan branding itu sengaja ditetapkan atau karena ikut-ikutan ada orang iseng yang menyebut pertama diikuti yang lain. Kemudian menjadi trend danofficially became a city image? Begitukah?

Bukan! Sama sekali bukan, apalagi karena iseng. Semua sebutan di atas ada yang secara resmi ditetapkan. Seperti Malang Kota Pendidikan, Industri, dan Pariwisata (dikenal sebagai Tri Bina Cita) ditetapkan oleh DPRD gotong royong pada 1962. Sebutan Kota Pegunungan pada 1937 pada saat Ir. Karsten mengikuti rencana desain Kota Malang ke Paris sebagai kota dengan konsep pegunungan.

Sebutan kota pension pada tahun 1900 setelah Belanda gagal uji coba kota pension di Tengger (Pasuruan) untuk pensiunan Tentara Belanda. Ada juga yang memang berdasar pada performa keindahan kota yang tampak terus menerus, sehingga mempengaruhi publik, seperti sebutan de Bloemenstad (Kota Bunga) pada 1922 sebagai konsekuensi dari kebijakan pemerintah Kotapraja Malang waktu itu yang berkonsentrasi membangun semua taman-taman kota dengan bermacam-macam tanaman yang membangunCultuurschool (Sekolah Pertanian/SPMA) yang mempunyai tugas menanamkan cinta tumbuhan pada masyarakat Malang.

Sebutan lain yang menjadi dasar dari semua predikat Kota Malang adalah Malang Kota Indah. Malang memang indah tanpa harus ditetapkan semua orang. Salah satu alasannya menurut saya adalah sisi topografi. Kota Malang dikelilingi empat gunung berapi, Semeru, Tengger, Kawi, dan Arjuno sekaligus dibelah oleh tiga sungai besar, Brantas, Amprong, dan Bango.

Alasan lain tentunya disebabkan leadership dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Banyak sekali hubungan konsep, perencanaan, dan predikat yang dapat dipelajari. Tetapi kali ini saya akan mencoba menggali langkah-langkah yang telah ditetapkan pemerintah Kotapradja Malang dalam merencanakan pembangunan Kota Malang sekitar tahun 1917 sampai 1929.

Kenapa? Karena masa itu adalah masa pembangunan pondasi Kota Malang. Pondasi tersebut dibagi menjadi delapan bagian yang masing-masing disebut dengan Bouwplan I sampai VIII.

Tahapan Perluasan Kota Malang

Bouwplan I (rencana perluasan pembangunan kota yang I) dengan luas 12.939 meter persegi. Perkembangan kota yang cenderung ke arah utara sepanjang jalan utama Malang-Surabaya harus segera menjadi bahan pertimbangan, Karena penyebaran pertumbuhan kota akan tidak seimbang antara daerah utara, selatan, dan timur.

Untuk itu, pada 13 April 1916 gemeenteraad (dewan kota) memutuskan untuk membangun perumahan pertama dimulai dari Celaket ke arah timur sampai Lapangan Rampal. Perumahan tersebut diperuntukkan golongan orang Eropa yang diberi nama daerah Oranjebuurt (daerah orange atau daerah dengan nama anggota keluarga kerajaan Belanda). Sekarang dikenal dengan nama daerah jalan Pahlawan.

Nama-nama jalan yang dipakai antara lain, Wilhelmina Straat (Jalan dr. Cipto), Juliana Straat (Jalan R.A Kartini), Emma Straat (Jalan dr.Sutomo), Willem Straat (Jalan Diponegoro), Maurits Straat (Jalan M.H Tamrin), Sophia Straat (Jalan Cokroaminoto).

Sedangkan bouwplan II (rancana perluasan pembangunan kota yang II) seluas 15.547 meter persegi. Pada pembahasan kelahiran Malang yang lalu saya menyebut dengan kelahiran prematur, karena belum mempunyai fasilitas pemerintahan sendiri.

Sekarang pada perencanaan perluasan kota kedua dasar pemikirannya adalah sebagai kota yang telah memerintah daerahnya sendiri dan harus mempunyai daerah baru yang diperuntukkan sebagai pusat pemerintahan. Sedangkan pusat pemerintahan yang lama (alun-alun kota) sudah dirasakan terlalu padat.

Daerah baru yang ideal adalah daerah dengan tanah yang luas berbentuk bundar yang kemudian dinamakan JP Coen Plan (sekarang alun-alun Bunder). Pada 26 April 1920 Gemeente Malang membuat rencana perluasan II yang dinamakan Gouverneur-Generaalbuurt (daerah gubernur jendral) dengan nama daerah seperti , Daendels Boulevard (Jalan Kartanegara), Van Onhoff St (Jl Gajahmada), Spellman St (Jl Majapahit), Maetsuucker St (Jl Tumapel), Riebeeck St (Jl Kahuripan), Van Oudthoorn St (Jl Brawijaya), Idenburg St (Jl Suropati), Van Den Bosch St (Jl Sultan Agung), Van Heutz St (Jl Padjajaran), dan Van Der Capellen St (Jl Sriwijaya).

Setelah pembuatan dua pusat kota, timbul kekhawatiran akan terjadi perpecahan. Karena itu dibuatkan jalan penghubung di antara keduanya, yakni Maetsuucker Straat (sekarng Jalan Tumapel).

Sedangkan bouwplan III dengan luas 3.740 meter persegi. Salah satu syarat hunian yang baik adalah adanya tempat pemakaman untuk orang Eropa yang hidup di Malang. Awalnya akan ditempatkan di Bareng, kemudian Kauman dan Lowokwaru dan akhirnya diputuskan di daerah Sukun dengan pertimbangan saat itu adalah daerah luar kota yang sangat jarang penduduknya. Sampai sekarang gerbang makam Eropa di Sukun masih kelihatan berdiri megah meskipun di depannya tertutupi oleh stasiun  pompa bensin.

Kalau saat dibangun dasar pertimbangannya adalah daerah pinggiran kota yang jarang penduduknya, sekarang di sana merupakan salah satu daerah langganan macet karena kapasitas jalan sudah tidak dapat menampung ledakan jumlah penduduk dan kendaraan bermotor.

Kemudian, apa kuburan itu harus direlokasi lagi? Kemana? Sekarang dengan perkembangan kota dan kabupaten yang pesat, sangat sulit untuk menemukan lahan luas untuk tempat pemakaman tanpa bersinggungan dengan kepentingan warga setempat.

Sedangkan bouwplan IV seluas 41.401 meter persegi. Rencana perluasan kota ini adalah program penyeimbang dari bouwplan I dan bowplan II yang membangun perumahan bagi kalangan Eropa dengan membangun perumahan kelas menengah ke bawah.

Perluasan ini berada di antara sungai Brantas dan jalan sepanjang kea rah Surabaya yang pada awalnya merupakan daerah kampong kecil yang terletak antara kampong Celaket dan Lowokwaru. Penataan pemukiman ini terbilang teratur karena hampir semua fasilitas terdapat di sana. Mulai tempat pemakaman 62.045 meter persegi (Samaan), sekolah dan lapangan olahraga.

Pada perencanaan init telah diterapkan konsep desainer Ir. Karsten yang menganjurkan jalur pembangunan dengan pemandangan sungai yang indah ke arah barat laut. Sayang konsep besar ini belum bisa dilaksanakan dengan baik karena saat itu Karsten masih belum resmi menjadi penasehat Kotapradja Malang.

Bouwplan V seluas 16.768 meter persegi. Perluasan kali ini menurut saya adalah pembangunan perluasan kota paling spektakuler. Bagaimana tidak, pembangunan Jalan Ijen dan fasilitas stadion yang dibangun pada 1920 dijadikan model jalan paling indah oleh Hindia Belanda pada saat itu dan masih ideal untuk model tata pemukiman.

Pemikiran membuat kota satelit telah mulai dipikirkan. Jadi beberapa pendapat yang mengatakanbouwplan V ini dibangun karena sudah tidak terdapat lagi lahan yang memenuhi syarat adalah tidak sepenuhnya benar. Pengembangan kea rah timur terbentur oleh rel kereta api dan tangsi militer yang ditempatkan di daerah Rampal. Ke arah tenggara terhalang  dengan kuburan China (kuto bedah), ke selatan akan bertemu dengan emplasemen MSM (Malang Stoomtram Maatschappij). Kalau ke utara permasalahan klasik akan muncul adalah kota akan berkembang hanya pada poros jalan Malang-Surabaya yang notabene harus malah diredam pertumbuhannya.

Ya. Jawabnya memang hanya ada satu, Barat! Tetapi pilihan pengembangan ke arah barat tidak semata-mata karena keterbatasan lahan pengembangan. Coba renungkan sebentar. Untuk menunjukkan Malang Kota Pegunungan, dipersiapkan lahan di ujung Jalan Semeru (sekarang dibangun Museum Brawijaya pada tahun 1967 dan diresmikan 4 Mei 1968 dengan rancangan arsitek Kap. CSI Ir. Soemadi).

Kemudian sepanjang Jalan Semeru jika dilihat dari udara akan terlihat seperti tertarik garis lurus dengan ending di depan stasiun kereta api melewati tepat di tengah alun-alun bunder. Nah, kalau begitumasak sih bouwplan V ini dibangun karena keterbatasan lahan?

Alasan yang lainnya, unsur utama pembangunan yang terdiri atas Jalan Ijen, stadion dan pembuatan jalan pemecah ke pusat kota, alun-alun bunder dan alun-alun kota (sekarang Jalan Kawi) adalah solusi kebuntuan arus lalu lintas dan berusaha tetap mempertahankan keramaian daerah yang lama. Sehingga dengan dibangunnya daerah baru, daerah yang lama tetap akan merasa menjadi satu.

Sementara bouwplan VI dibangun di atas lahan 220.901 meter persegi. Pergeseran alun-alun kota juga terlihat dari gejala perluasan daerah pertokoan di daerah utara menuju  ke arah Oro-Oro Dowo, Kayutangan dan Rampal. Lambat laun perluasan tersebut akan meninggalkan daerah Pecinan yang bersejarah.

Hal ini tidak dikehendaki oleh Karsten sebagai penasehat kota waktu itu. Gejala tersebut dapat dicegah dengan memberikan perhubungan yang lebih baik pada bagian tenggara kota untuk keperluan lainnya yang bermanfaat yang banyak mengurangi tekanan lalu lintas di daerah baru.

Ide inilah yang menyebabkan munculnya rancangan perluasan kota ke VI yang dikenal dengan daerah Eilandenbuurt (daerah pulau-pulau). Seperti Lombok Weg, Java Weg, Soemba Weg, Bawean Weg dan lain-lain. Dalam perkembangan pembangunan kota kali ini konsentrasi pemerintah selain pada pembangunan daerah pulau-pulau, juga pembangunan pasar.

Sebelum tahun 1914, di Malang hanya ada satu pasar milik swasta di Pecinan. Dewan wilayah yang berkedudukan di Pasuruan hendak membangun pasar di daerah Kayutangan, tetapi akhirnya mengambil alih pasar Pecinan dan mulai dibangun pada 1920. Sekarang kita kenal sebagai Pasar Besar.

Selanjutnya dibangun pasar di kampong-kampong, Pasar Bunulrejo, Kebalen, dan Oro-Oro Dowo pada 1932, Pasar Embong Brantas dan Lowokwaru tahun 1934, sedangkan Pasar Dinoyo dan Pasar Blimbing dibangun Januari 1940.

Pada bouwplan VII yang direncanakan di atas luas 252.948 meter persegi merupakan lanjutan daribowplan V, yaitu pembangunan kawasan Ijen yang lebih ditekankan pada pembangunan rumah ukuran besar (villa). Sampai sekarang rumah-rumah di Jalan Ijen masih tetap ukurannya. Hanya sayang desain arsitekturnya telah berubah sama sekali. Satu-satunya tambahan pada tahap ini adalah pembangunan lokasi pacuan kuda terbesar di Indonesia yang pada tahun 1938 pernah menjadi tuan rumah diadakannya Kabore Kepanduan Sedunia.

Pada bouwplan VIII dengan luas 179.820 meter persegi, zonanisasi industry telah dimulai pada tahapan pembangunan ini. Malang telah dirasakan telah menjadi daerah yang sangat diminati oleh investasi asing. Untuk itu perlu secepatnya dilakukan penyediaan lahan untuk daerah industri.

Daerah itu berada di wilayah yang berdekatan dengan jalur kereta api (Stasiun Kotalama)emplasemen kereta dan trem untuk menunjang kegiatan industri. Perusahaan yang kali pertama menempati adalah BPM dan Faroka. Selanjutnya kawasan industri diperluas di daerah Blimbing.

Dengan perluasan pembangunan kota I-VIII, Kota Malang bertambah luas 744.064 meter persegi dari luas semula. Pada 1929 total luas kota menjadi 1882 hektar. Keindahan wajah kota sangat tercermin mendasari semua pembangunan yang dilakukan.

KISAH SEJARAH KOTA MALANG YANG TAK BANYAK TERUNGKAP (6)

Keamanan Tinggi, Nominasi Ibukota RI

Sadarkah kita kalau markas semua angkatan bersenjata berada di Malang? Kalau tidak percaya, coba lihat: angkatan lau di jalan pulau-pulau, angkatan udara di Pakis, angkatan darat di Rampal dan kepolisian sekrang di Ampeldento, Pakis. Kenapa tidak di Pasuruan, atau di Kediri atau kota yang lain?

Keberadaan semua kantor keamanan tersebut bukan kebetulan. Kalau dirunut dari sejarah, paling tidak tahun 1614 ketika pertama kali ekspansi Sultan Agung Kerajaan Mataram ke Jawa Timur, Malang telah membuktikan diri untuk yang pertama kali sebagai daerah pertahanan yang dominan. Seluruh Jawa Timur tidak akan dapat ditaklukkan jika tidak menguasai daerah Malang terlebih dahulu. Kenapa begitu? Setiap terjadi penyerangan di Jawa Timur, setelah kota lain dikalahkan, semua pemimpin daerahnya mengundurkan diri ke Malang untuk menyusun kekuatan kembali. Setelah siap, mereka kembali mengambil alih lagi daerahnya.

Demikian selalu terjadi terus menerus sampai akhirnya Sultan Mataram menyatakan ada satu daerah yang selalu “malang” yang artinya menghalangi. Itulah salah satu sebab, pertama kali daerah ini disebut daerah Malang, dan kemudian masa itu Malang dikenal sebagai Terugval Basis (kota pertahanan terakhir). Akhirnya, segera bias dicetak, daerah yang pertama kali harus dikuasai Mataram adalah daerah Malang pada tahun 1614, kemudian Pasuruan tahun 1616 dan Surabaya tahun 1625. Sedangkan sebutan untuk Surabaya dan Pasuruan saat itu adalah center of force yang artinya kota pemusatan kekuasaan. Jadi kesimpulannya, jika ingin menguasai Jawa Timur, kuasai dulu Malang. Itulah sebabnya semua basis angkatan berada di Malang sampai sekarang.

Nama-nama pahlawan nasional yang pernah menjadikan Malang sebagai daerah pertahannya antara lain Trunojoyo (tahun 1615) dan Pangeran Aria Wiranegara/Suropati (tahun 1686-1706). Peristiwa penangkapan keduanya sangat dramatis seperti disebutkan dalam babad willis dan babad-babad yang lain. Trunojoyo ingin mencapai home base perjuangan terakhirnya, yaitu Madura, dihalangi oleh tentara Belanda dan pasukan Mataram di Kediri sampai Lodoyo, Blitar. Di Surabaya dan Pasuruan ditunggu oleh pasukan Makassar di bawah pimpinan Karaeng Galesung. Di sini peran Malang sebagai Terugval Basis kembali dimanfaatkan untuk menetap sementara menyusun kekuatan. Sayangnya, seperti ucap Bapak Proklamator kita, Ir. Soekarno:”jangan pernah melupakan sejarah”, sangat diperhatikan oleh Belanda. Mereka belajar dari kegagalan Sultan Agung yang akhirnya membuat kesimpulan, ada satu daerah yang selalu menjadi tempat pertahanan terakhir: Malang. Tanpa susah payah menebak tempat persembunyiannya, Belanda mengepung dan memukul mundur Trunojoyo sampai daerah Ngantang hingga menemui ajalnya di perbukitan antara Ngantang dan Batu. Demikian juga dengan perjuangan Suropati yang menjadikan Malang menjadi benteng pertahanan terakhirnya. Perlu kita ketahui pembagian wilayah yang ada saat itu. Bang Wetan (sekarang Jawa Timur), yang terdiri dari Pasuruan, Malang, Kediri dan Blambangan (Banyuwangi) adalah wilayah di bawah Mataram. Hal ini dapat diketahui dengan adanya surat instruksi Amangkurat II tanggal 2 Desember 1677 kepada bupati-bupatinya yang berbunyi, ”untuk bupati-bupati pesisir dan daerah-daerah lainnya beserta kota-kota yang terletak di pedalaman mengenai penjualan keluar gabah dan beras” instruksi tersebut diikuti dengan daftar nama-nama kabupaten (G. P. Rouffaer, Nalatenschap, tanpa tahun) yang menyebutkan Surabaya nomor 17 Pasuruan nomor 21 dan Malang nomor 49. Karena masuk dalam daftar tersebut, berarti Malang adalah daerah Mataram yang tercakup dalam Bang Wetan. Tetapi hal ini sedikit membingungkan karena dalam daftar daerah milik VOC (J.K.J de Jonge & M.L van Deventer, 1862-1909) tentang Dagh-register 1678, Malang dan Pasuruan belum termasuk di dalamnya, mungkinkah beberapa daerah yang telah dikuasai Mataram tidak termasuk daerah yang dikuasai oleh VOC? Tahun 1743 Bekanda menambah predikat Malang tidak hanya sebagai Terugval Basis tetapi juga sebagai daerahVoedingsboden yang berarti tanah pembinaan bagi gerakan anti-Belanda. Daerah-daerah lain yang kemudian juga berfungsi menjadi daerah pertahanan setelah Malang telah diketahui, adalah kompleks Raung Banyuwangi, Kompleks Tengger dan Pulau Nusabarong. Di sini kisah Bupati Malang pertama (bukan versi Belanda) Raden Aria Malayakusuma dimulai, Wadena Siti Ageng Mataram yang mengangkat dirinya menjadi Bupati Bang Wetan.

Ada beberapa pertimbangan fakta Malang menjadi Terugval Basis: geopolitik, letak geografis dan historis (mitos masyarakat). Geopolitik di sini dikaitkan dengan keberadaan Sungai Brantas yang memanjang 252 km dari sumber sampai muara dengan luas pengairannya yang mencapai 10.000 km. Demikian juga pusat aktivitas politiknya yang berpindah-pindah, Kerajaan Kanjuruhan (sumber), dinasti Majapahit (muara).

Sedangkan pertimbangan letak geografis adalah karena Malang dikelilingi empat gunung berapi: Semeru, Kawi, Arjuno dan Tengger. Jadi untuk mencapainya diperlukan waktu dan kemampuan yang prima, serta dibelah oleh tiga sungai besar, yakni Bango, Amprong, dan Brantas. Sangat sulit untuk ditemukan kecuali dengan membangun jembatan terlebih dahulu. Sedangkan faktor historis berarti mitos yang beredar tentang Malang adalah daerah bumi yang sakral di mana tempat para roh leluhur raja-raja Singosari dan Majapahit berada. Malang memang harus pdrmanen. Tahun 1767 setelah Bupati Malaya Kusumo tewas dalam pertempuran di daerah Malang selatan, Belanda mendirikan benteng untuk memastikan bahwa daerah Malang harus terus menerus diawasi.

Tahun 1800 Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda (VOC) dibubarkan dan pemerintahan langsung dipegang oleh Gubernur Jendral H.W Daendels (1808-1811). Setelah itu jatuh ke tangan Inggris di bawah Letnan Gubernur Jendral Thomas Stamford Raffles (1811-1816). Angka 14 memang angka yang keramat untuk Kota Malang. Kelahirannya 1914, sedangkan tahun 1814, akibat konvensi London oleh Inggris semua wilayah dikembalikan lagi ke Belanda, termasuk Malang. Jadi bisa dikatakan, tahun 1814 adalah kelahiran Kota Malang yang pertama di dunia internasional. Hanya bedanya 1814 dilahirkan oleh Inggris, sedangkan 1914 dilahirkan oleh Belanda. Perubahan besar memang setelah di bawah kekuasaan Belanda yang kedua ini dengan dibentuknya karesidenan di Pulau Jawa (staatblad 1819 no 16, surat keputusan Komisaris Jendral 9 Januari 1819) sebanyak 20 buah, yaitu: Banten, Jakarta, Bogor, Priangan, Krawang, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Kedu, Yogyakarta, Surakarta, Jepara dan Juana, Surabaya, Pasuruan, Besuki, Banyuwangi, Madura dan Sumenep, Rembang dan Gresik. Keputusan tersebut langsung diikuti dengan peraturan kewajiban, gelar dan pangkat para bupati (9 Mei 1820 no.6) yang tertinggi bupati dengan gelar Raden Adipati, kemudian Raden Tumenggung, dan paling bawah Raden Mas Ingebehi.

Di Kabupaten Malang, saat itu dipimpin oleh Raden Tumenggung Kertonegoro, sedangkan Bupati Pasuruan bergelar Raden Adipati, jadi jelas Bupati Malang pada masa itu adalah bupati kelas dua, dengan perbandingan gaji Bupati Malang F. 4.800 setahun dan Bupati Pasuruan F. 15.000 setahun.

Malang sebagai kota pertahanan (Terugval Basis) ini pula yang membuat pernah menjadikan pertimbangan untuk menjadi nominasi ibukota negara Indonesia setelah tahun 1945. Dalam laporan walikota tahun 1954 disebutkan, pada saat pemerintah pusat berkehendak selekasnya mendirikan sebuah ibukota negara Republik Indonesia, saat itu langsung diikuti dengan penegasan daftar beberapa kota yang dipilih. Antara lain Djakarta, Bandung, Magelang, Bogor, dan Malang. Saya punya keyakinan, pertimbangan saat itu memasukkan Kota Pradja Malang karena faktor historis sebagai daerah dengan tingkat keamanan yang tinggi. Pemerintah Malang langsung memerintahkan untuk membentuk kepanitiaan Persiapan dengan mengumpulkan beberapa persyaratan untuk dapat ditunjuk sebagai ibukota negara. Untuk menjadi satu ibukota negara ternyata tidak hanya berdasar pada faktor keamanan saja, tetapi banyak sekali hal-hal lain yang mempengaruhi, seperti faktor ekonomi, physis/meteorologist, sosial, teknis, histeris, geopolitik, dan futuris (kondisi masa depan). Semoga pengelaman demi pengalaman ini menjadikan Malang semakin matang dalam mengelola wilayahnya. Memang, mempelajari sejarah bukan untuk berbangga diri pada masa lalu, tetapi lebih untuk memperkuat bekal fondasi komitmen membangun masa depan yang bermanfaat. Setuju?

KISAH SEJARAH KOTA MALANG YANG TAK BANYAK TERUNGKAP (7)

1936, Kota Malang Sudah Punya Jalan Lingkar Luar

Mengapa Malang dulu dikenal sebagai kota sejuk, kota taman, kota pegunungan, dan kota indah? Semuanya karena konsep penataan kota yang dilakukan arsitek  Herman Thomas Karsten. Bagaimana konsepnya?

Saat pemerintah akan mengembangkan Kota Malang dengan cara perluasan lahan, ketika para spekulan membeli tanah dan menjualnya kembali dengan harga tinggi, muncullah permasalahan. Hal itu tidak hanya terjadi zaman sekarang. Sejak Malang pertama akan mengembangkan diri, masalah tersebut sudah merebak.

Saat itu tanah masih sangat-sangat luas dan harga tanah seperti tidak bernilai. Bahkan, karena masih banyak “belukar”, di beberapa daerah seperti Oro-Oro Dowo dan Kedungkandang masih sempat dijumpai binatang-binatang liar seperti macan rembang.

Meskipun telah dilakukan perubahan dalam peraturan hukum, tetapi Gemeente Malang masih belum puas dengan tingkat kemandirian yang dimilikinya. Mereka menghendaki adanya reformasi pemerintahan menjadi dekonsentrasi. Dewan-dewan wilayah dibubarkan karena jumlahnya terlalu besar dan dirasakan kontak anggota dengan penduduk masih kurang.

Spekulan tanah muncul saat pemerintah Gemeente Malang berubah status menjadi Staadsgemeentetahun 1926 dan memperoleh wewenang yang lebih besar (Stadsgemeente Ordonantie 1926). Selanjutnya mereka bertanggung jawab kepada Provinsi Jawa Timur. Meskipun tanah kosong masih sangat luas, tanah yang telah direncanakan untuk pengembangan kota telah lebih dahulu dibeli spekulan tanah.

Melihat gejala tersebut, Wali Kota saat itu Ir. E.A. Voorneman mengambil tindakan berdasar Bijblad I 1272 mengeluarkan suara rencana yang disebut Geraamteplan (Outline plan) yang bertujuan menguasai tanah yang diperlukan untuk perluasan kota dengan biaya pemerintahan pusat. Geraamteplan yang dibuat pemerintah Stadsgemeente Malang pada dasarnya hanya untuk menguasai tanah untuk perluasan tanpa dibuat breakdown lebih detail tentang rencana fungsi dan pemanfaatannya. Akibatnya, rencanaGeraamteplan Malang ditolak oleh pemerintah pusat.

Sebagai akibat dari Algemeene Volkshuisvestingcongress (Kongres Perumahan Rakyat Umum) 1922, pada 1926 pemerintah pusat menetapkan perluasan dari Oemeentelijk Voorkeurrecht Op Gouvernementsgronden (Peraturan Hak Preferensi Kotapraja atas Tanah Gubermen) berupa bijblad(lampiran negara) nomor 11272 yang isinya tentang pedoman-pedoman cara penguasaan tanah bagi perluasan tanah. Hal itu menjadi basis bagi pembuatan Geraamteplan yang akan diajukan kepada pemerintah pusat untuk bisa diterima, dipertimbangkan, atau ditolak. Setelah disetujui, pemerintah pusat akan memberikan prioritas berdasar undang-undang bahwa tanah yang dipergunakan untuk perluasan kota tidak boleh dijadikan hak milik atau yang sampai sekarang kadang-kadang kita masih mendengar istilaheigendom. Sekarang banyak pihak yang ingin memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat tentang tanaheigendom itu. Mereka mengetahui daftar tanah-tanah tersebut dan menakut-nakuti penghuni rumah yang notabene sudah tinggal turun-temurun untuk bisa diambil alih dengan hanya diberi uang pesangon. Alasannya, daripada nanti sewaktu-waktu tanah tersebut diambil oleh pemerintah. Ternyata rumah atau tanah tersebut dijual kembali dengan harga yang berlipat-lipat.

Kemudian, bagaimana rencana Staadsgemeente Malang setelah Geraamteplan-nya ditolak pemerintah pusat? Langkah yang diambil adalah mencari ahli perencana kota untuk membuat perencanaan tersebut. Dan, pilihannya jatuh kepada Ir. Herman Thomas Karsten, yang sebelumnya sering diminta untuk membantu sebagai penasihat kota (adviseur) Malang. Karsten lahir pada 22 April 1884 di Amsterdam. Dia arsitek yang sangat brilian di Belanda. Hampir semua keluarganya professor di beberapa bidang. Karsten lulus dari jurusan bangunan di sekolah tinggi teknik di Delf tahun 1909 dengan hasil cumlaude.

Karsten datang ke Indonesia pada 1914, tepat kelahiran Kota Malang, atas undangan teman sekolahnya, Henri Maclaine Pont, seorang arsitek yang banyak karyanya dapat dijumpai sampai sekarang seperti gedung ITB, Museum Trowulan, dan Geraja Pohsarang di Kediri. Karsten menikah dengan Soembinah Mangunrejo, seorang buruh tanam tembakau di Lembah Dieng, Jawa Tengah. Selanjutnya, dia aktif sebagai pengurus dewan kesenian dan ikut mendirikan perkulmpulan kesenian Jawa Sobokarti di Semarang (De Java Institude). Tahun 1941, dia menjadi lektor luar biasa ITB Bandung jurusan planologi dan berteman dengan tokoh penting saat itu seperti Ir. Soekarno, Djojodiningrat, dan Radjiman.

Setelah masuknya Jepang di Indonesia tahun 1942, Karsten ditangkap dan dimasukkan ke kamp penyiksaan interneer Jepang. Dia berada di kamp penyiksaan sampai meninggal April 1945.

Sebelum meninggal, setelah diangkat resmi olah Wali Kota Ir. E.A. Vooeneman Agustus 1929, Karsten membuat perencanaan besar Kotapradja Malang. Dari sinilah, awal perencanaan Kotamadya Malang dengan konsep totalbleed dimulai, kota sebagai satu kesatuan dan terdiri atas faktor-faktor bangunan, jalan-jalan, rambu-rambu, penghijauan, pematusan, dan pemandangan yang harus menyatu serta direncanakan dengan menyeluruh dan berkesinambungan. Sekarang konsep tersebut dapat kita jumpai pada penyusunan RUTRK (rencana umum tata ruang kota), kemudian RDTRK (rencana detail tata ruang kota) yang akhirnya diterjemahkan dalam RTRK (rencana teknis ruang kota).

Menurut dia, fondasi pembangunan kota ada tiga. Yaitu perencanaan yang menyeluruh, peraturan-peraturan administratif, dan dinas yang tegas mengurusi serta mengawasinya. Kemudian tahun 1932, dibentuklah dinas ynag mengurusi pembangunan kota (mungkin sekarang sama dengan dinas kimpraswil). Juga ada pembuatan peraturan pembangunan kota (sekarang dikenal dengan IMB/izin mendirikan bangunan). Pun ada bagian perencana kota (sekarang seperti bappeda).

Tugas pertama yang harus dilakukan adalah pembuatan pengaturan tentang tipe bangunan dan pembagiannya dalam lingkungan. Tipe yang bercorak kota terdiri atas tipe vila (khusus untuk rumah di daerah Jalan Ijen), tipe rumah kecil, tipe rumah kampung terbuka dan kampung tertutup , serta tipe fasilitas umum  dan tipe pedesaan. Inilah kali pertama pemerintah Belanda membuat peraturan pengelompokan jenis perumahan berdasar etnis. Sebelumnya, tipe pembangunan selalu dikelompokkan berdasarkan jenis pemukiman Eropa, China, Arab, dan penduduk biasa.

Tugas kedua adalah perencanaan jalan yang menyeluruh dan terpadu dengan perkembangan pembangunan kota. Karsten dangat memperhatikan pertumbuhan jumlah penduduk dalam merencanakan pembangunan jalan dan jaringannya. Sebagai contoh, pada saat tingkat pertumbuhan kendaraan saat itu di jalan utama (Kayutangan) akan meningkat, segera dibangun outer ringroad (jalan lingkar luar) di sebelah timur yang sekarang dikenal sebagai Jalan Panglima Sudirman. Jalan lingkar luar itu melewati Rampal yang sebelumnya adalah jalan tembusan tak beraspal. Sedangkan outer ringroad di sebelah barat adalah lingkar Jalan Ijen tembus Oro-Oro Dowo.

Konsep yang lain adalah tentang pembuatan taman dan ruang terbuka. Dalam perencanaan sebelumnya, ruang terbuka yang ada sebelumnya untuk olahraga dan untuk kepentingan militer. Namun, Karsten juga seorang pecinta berat lingkungan. Dia pun membuat taman untuk bersantai masyarakat umum. Dia mengatakan, jalan utama harus cukup lebar dan harus diberi taman di setiap persimpangannya. Jalan tersebut harus berirama, diatur dengan adanya sumbu-sumbu jalan datar dan titik klimaks. Hal ini akan menjadi ciri kota yang indah. “Bukan saja indah dipandang mata, tetapi juga nyaman dilewati,” ungkap Karsten. Konsep itulah yang kemudian diterapkan pada penataan Ijen Boulevard yang berhasil ikut dalam Pameran Tata Kota Dunia di Paris tahun 1937 dengan bantuan penasihat Kotamadya Bandung.

Untuk menunjukkan bahwa Malang Kota pegunungan, diterapkan peraturan daerah untuk bangunan yang berada di sepanjang Daendels Boulevard (Jalan Kertanegera) melewati JP Coen Plien (Alun-alun Bunder), sampai tembus Jalan Semeru. Diatur keberadaaan dan ketinggian bangunannya supaya tidak menutupi pemandangan ke arah Gunung Kawi. Dan untuk menunjukkan pemandangan gunung pada setiap orang yang datang ke Malang, tahun 1930 Stasiun Kota Baru yang dulunya punya pintu masuk menghadap ke tangsi militer (Rampal) dipindah menghadap ke arah Alun-alun (Tugu) sampai sekarang.

Sedangkan untuk menjaga resapan dan suhu udara yang sejuk, dimanfaatkan keberadaan Sungai Brantas. “Seluruh lembah Brantas yang ada di dalam kota akan dipakai sebagai taman. Sungai Brantas bukan hanya berfungsi sebagai pembatas kota, tetapi harus juga berfungsi sebagai taman kota,” ucap Karsten.

Melalui keberadaan taman yang dihubungkan dengan jalan setapak di sepanjang Sungai Brantas, hampir semua bangunan mempunyai teras yang menghadap ke Sungai Brantas. Sekarang kita tahu, tidak satu pun bangunan yang mau menghadap ke arah sungai. Ini menyebabkan sungai menjadi kumuh, ditempati oleh para tunawisma, dan tidak menarik lagi sebagai fungsi semula: taman sekaligus paru-paru kota. Padahal, sebutan Malang Kota sejuk, kota taman, atau kota indah berawal dari perencanaan saat itu yang selalu membangun berkonsep lingkungan. Sekarang, perlu dipertimbangkan lagi kemungkinan mengembalikan kasta taman dan sungai ke tempat semula sebagai barometer keindahan dan kenyamanan Kota Malang.

KISAH SEJARAH KOTA MALANG YANG TAK BANYAK TERUNGKAP (8)

Banyak bangunan bersejarah di Kota Malang. Sebagian sudah berubah dan sebagian masih utuh. RSSA itu dulunya benteng pertahanan Belanda. Selain itu, kenapa Toko Oen masih utuh meski Malang mengalami peristiwa bumi hangus?

Lewat dari arah mana jika ingin berkunjung ke Kota Malang? Jawabnya adalah dari arah utara. Kenapa? Karena kalau ingin berkunjung ke rumah harus melalui pintu bukan lewat jendela atau yang lain.

Terus, pintunya Malang apa di utara? Ya, pintunya ada di Lawang! Lawang dalam Bahasa Jawa berarti pintu. Entah pintu masuk atau pintu keluar, tapi memang lebih baik masuk lewat Lawang.

Pintu masuk Malang dari arah Surabaya inilah yang paling banyak dilalui daripada yang lainnya (Blitar, Kediri atau Lumajang). Nah, sekarang kalau kita coba menelusuri keberadaan bangunan heritagedari arah utara ke selatan, kita akan menemui beberapa sumber data, baik tertulis maupun lisan. Kadang satu tempat mempunyai beberapa keterangan yang berbeda sesuai dengan sumbernya sendiri-sendiri.

Yang ingin saya sampaikan sekarang ini adalah salah satu sumber data yang berasal dari literatur yang paling banyak dipergunakan dalam setiap penelitian sejarah arsitekstur dan budaya. Saya akan mencoba dari mulai bangunan yang dibangun sejak zaman Gemeente yang masih bisa kita lihat sampai sekarang.

LP Lowokwaru

Berikut Penjara Lowokwaru jaman dulu

Penjara ini telah mengalami pergantian tiga masa, yakni masa Belanda, Jepang dan kemerdekaan. Dibangun pada 1921 saat pemerintah Belanda membangun perumahan di daerah Celaket, kemudian digunakan Jepang sebagai tempat penampungan para pejuang diinterogasi.

Pada saat Belanda memasuki Malang, tempat ini dibakar oleh para pejuang Malang sampai tinggal tembok penyekatnya saja. Sampai sekarang LP Lowokwaru masih berfungsi sebagai penjara meskipun lokasi perumahan penduduk sangat dekat sekali. Tempat ini pula yang menjadi tempat awal karir pahlawan Hamid Roesdi sebagai sopir.

Klinik Lavalette

Rumah sakit yg dibangun oleh orang belanda. Lestari hingga hari ini
cobalah sekali2 masuk, anda akan menemukan sudut2 yg masi asli seperti jaman dulu kala.

Pendiri Lavalette

Dokter2 dari Lavalette saat mengunjungi tosari – Bromo

Di dekat lintasan kereta api kawasan Celaket terdapat sebuah rumah sakit yang sejuk dan rimdang dengan fasilitas yang modern bernama Rumah Sakit Lavalette. Kependekan dari G.Ghr.Renardel De Lavalette, nama seorang pemilik klinik ini. Karena kesetiaannya pada pengabdian kesehatan masyarakat, beliau bersama Yayasan Stichting voor Malangsche Verleging pada 1918 mendirikan klinik kesehatan yang sekarang berkembang menjadi rumah sakit di bawah pengelolaan PT. Perkebunan Nusantara XI (Persero).

Sekolah Corjesu

Tepat pada 8 Februari 1900 keinginan Mgr. Staal (satu-satunya Uskup di Indonesia) untuk mendirikan biara dan sekolah di Malang terwujud. Keinginan itu terwujud dengan dibelinya tanah di Jalan Celaket milik Tuan Stenekers. Selanjutnya tanah tersebut pada 3 Maret 1900 dibangun oleh arsitek Westmass dari Surabaya. Mulai digunakan tahun 1930 untuk sekolah pendidikan guru dengan nama SPG Santo Agustinus.

Pada masa pendudukan Jepang, sekolah ini dihentikan untuk keperluan Jepang. Selanjutnya pada bulan November 1945 dijadikan markas sementara sekolah militer divisi VII Suropati (sebelum pindah ke bekas asrama Marine Belanda di Jalan Andalas).

Pada saat Clash I pada tanggal 30 Juli 1947, sekolah ini juga tidak luput dari pembakaran. Tanggal 8 April 1951 dimulai pembangunan kembali secara besar-besaran dan tanggal 15 Juli 1951 sekolah pendidikan guru Santo Agustinus ini berubah menjadi SMA Corjesu dan diresmikan oleh Monseigneur pada 13 Januari 1955.

Sekolah Frateran

Tepat di pinggir Jalan Celaket yang merupakan akses utama hampir seluruh kegiatan Belanda, dibangun Fraterschool pada 1926 dengan arsitek biro arsitek Hulswit, Fermont & Ed, Cuypers dari Batavia.

Gedung yang sehari-hari berfungsi sebagai sekolah umum  dan biara untuk para frater, berada di bawah Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus Provinsi Indonesia dengan Bapak pendiri Frater Mgr. Andreas Ignatius Schaepman. Diresmikan tanggal 13 Agustus 1873 di Utrecht.

RSSA

Lokasi bangunan yang paling bersejarah di Malang adalah lokasi sekarang berdiri RSSA.

Saiful Anwar. Karena kali pertama Belanda memasuki Malang pada 1767, mereka membangun benteng pertahanan atau Loge/Loji (Kelojian-Kelodjen) di tempat ini. Pembangunan ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa Sungai Brantas dapat dijadikan jalan keluar jika terjadi penyerangan. Selanjutnya pada 1800-an, Belanda mulai bermukim di sekitar alun-alun dan tempat ini dijadikan militair hospital (rumah sakit Tentara Belanda) di daerah kompleks militer Belanda, mulai dari Lapangan Rampal. Sekarang semua fasilitas tersebut digunakan untuk Kodim, Ajendam, Rindam dan Kesdam. Pada 8 Maret 1942 Jendral Ter Poorten menyerahkan rumah sakit ini kepada Jepang sampai terjadi pengeboman Hiroshoma 6 Agustus 1945.

Saat terjadi agresi militer I 1947, setelah bertukar tempat dengan RS Sukun, oleh Pemerintah Propinsi Jawa Timur digunakan sebagai rumah sakit umum dengan nama ‘Celaket’ dan berganti nama Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar pada 12 Nopember 1979 sampai sekarang.

PLN

Kantor Electriciteit Mij Aniem N. V. Malang atau Perusahaan Listrik Negara cabang Malang dibangun sekitar 1930-an dengan cirri khas Nieuwe Biuwen yang beratap datar, gevel horizontal dan volume bangunan berbentuk kubus.

Bangunan yang bagian belakangnya lengsung menghadap ke Sungai Brantas ini mempunyai beberapa ruang bawah tanah yang tertutup. Jika dilihat dari tahun pembangunan yang sezaman dengan pembangunan Stasium Kota Baru, maka fungsi ruang-ruang bawah tanah tersebut adalah dipakai sebagai tempat berlindung atau menyelamatkan alat-alat vital listrik. Ruang itu dibuat untuk melindungi alat-alat dari Perang Dunia II yang saat itu isu-nya berkembang cukup luas.

YMCA Hotel

Gedung yang saat ini dipergunakan Bank Central Asia berada tepat di perempatan Jalan Basuki Rahmat ini dibangun pada 1930 oleh biro arsitek Karel Bosh adalah Hotel Mabes dan Malangsche Apotheek.

Kemudian berganti nama Hotel YMCA, tidak diketahui dengan jelas tahun berapa hotel tersebut berganti nama, tapi saat itu hotel ini adalah satu-satunya hotel Jaringan Internasional di Malang.

Kantor Telkom

Kantor Telkom sekarang ini dahulu adalah kantor pos, telegram dan telepon. Dibangun 8 Juli 1909 dan pension pada 1929.

Sambungan telepon masih dikelola oleh swasta, baru pada 1917 diserahkan ke pihak Kotapraja dengan jumlah sambungan sebelumnya 275 menjadi 1.000 sambungan yang kebanyakan pemakainya orang Eropa.

Sama dengan bangunan Belanda yang lain, pada agresi militer I, hampir semua bangunan kolonial Belanda dibakar, kantor Telkom ini juga tak luput dari amuk pejuang Malang hingga tinggal tembok depannya saja.

Pada masa pendudukan Belanda yang kali kedua ditandai dengan defile pasukan dan kendaraan berat, kantor Telkom ini selalu menjadi panggung anjungan kehormatan.

Toko Oen

Sejak 1930 Toko Oen Ice Cream Palace Patissier mulai dibuka dan menjadi satu-satunya restoran dari keluarga China, ‘Oen’ dengan menyediakan menu khas Belanda saat itu. Karena lokasinya berada tepat di depan Gedung Concordia (sekarang Sarinah) tempat berkumpulnya semua warga Belanda di Malang, restoran ini sampai sekarang dikenang sebagai tempat nostalgia warga Belanda yang wajib dikunjungi.

Pada saat Kongres KNIP pada 25 Februari 1947, restoran ini menjadi tempat mangkal para peserta Kongres se-Indonesia untuk beristirahat makan siang. Semasa pendudukan kembali Belanda pada Juli 1947, tempat ini adalah salah satu yang selamat dari pembumihangusan.

Gereja Hati Kudus Yesus

Gereja ini didirikan pada 1905 oleh arsitek MJ. Hulswit, murid sekolah Quelinus yang dikepalai oleh PJH Cuypers. Dia arsitek Belanda ahli restorasi gereja-gereja Githic saat Malang masih menjadi daerah bagian dari karesidenan Pasuruan.

Di dalam terdapat prasasti yang ditulis dalam bahasa Belanda yang artinya “Gereja ini dipersembahkan kepada Hati Kudus Yesus, didirikan berkat kemurahan hati yang mulia Monseigneur E.S Luypen, dirancang oleh M.J Hulswit”. Dan semasa penggembalaan yang terhormat room-romo GDA. Joncbloet dan FB. Meurs, pada tahun 1905 dilaksanakan oleh pemborong YM.Monseigneur Edmundus Sijbrandus Luypen, Uskup Tituler dari Eropa, Vikaris Apostolik dari Batavia” (Indrakusuma, 1992).

Dua tower ciri khas Gereja Gothic di kanan kiri pintu masuk. Saat pembangunan pertama pada 1910 belum ada, baru pada 17 Desember 1930 menara itu selesai dibangun dan tidak berubah sampai sekarang.

Makam Mbah Honggo

Sayang makam ini sekarang sudah tidak terawat bahkan cenderung terabaikan. Padahal kedua makam tersebut adalah keturunan langsung trah Majapahit. Dalam buku leluhur R. Koesnohadipranoto (Comptabel Ambtenaar) dan Serat Kekancingan Kasunan Surokarto Hadiningrat Nomor 45/15/II 3 Feb 1933, turunan R.B Soeprapto, disebutkan bahwa makam pertama adalah Kandjeng Pangeran Soero Adimerto (Kyai Ageng Peroet) dan yang kedua adalah Pangeran Honggo Koesomo (Mbah Honggo).

Bagaimana makam keturunan Majapahit bisa berada di sini? Tahun 1518 dan 1521 pada masa pemerintahan Adipati Unus dari kerajaan Demak menyerang kerajaan Majapahit masa pemerintahan Prabu Brawijaya (Bhre Pandan-Salas, Singhawikramawardhana). Serangan pasukan Demak memaksa seluruh keluarga mundur ke Sengguruh yang selanjutnya mengungsi ke Pulau Bali.

Prabu Brawijaya mempunyai putra yang bernama Batoro Katong yang melarikan diri ke Ponorogo pada 1535 dan menjadi Adipati Ponorogo. Beberapa keturunan selanjutnya, Kandjeng Soero Adimerto yang hidup pada masa perjuangan Pangeran Haryo (BPH) Diponegoro, putra Sampeyan Dalem ingkang Sinuwun Kandjeng Susuhunan Pakubuwana I tahun 1825.

Setelah peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Jendral De Kock di Magelang pada 28 Maret 1830, semua Senopati (panglima perang) berpencar ke seluruh Jawa Timur dengan menggunakan nama-nama samaran yang bertujuan menghilangkan jejak terhadap Belanda.

Pangeran Soero Adomerto berganti nama Kyai Ageng Peroet, Pangeran Honggo Koesomo menjadi mbah Onggo, Ulama Besar Kanjeng Kyai Zakaria II menjadi Mbah Djoego. Sedangkan keturunan di bawahnya, Raden Mas Singhowiryo dimakamkan terpisah sekitar 50 meter dan sekarang dikenal masyarakat dengan Kuburan Tandak.

Trem

Pada awal 1900-an Malang Stoomtram Maatschappij (perusahaan pengelola trem Belanda) sudah mengoperasikan trem (kereta api uap) di Malang. Kereta angkutan penumpang pada tahun itu sudah menjadi angkutan yang populer di samping semua angkutan tradisional.

Rel trem yang dahulu terdapat di Blimbing, Lowokwaru, Celaket, Kayutangan dan melintas di tengah-tengah alun-alun. Saat ini sudah tidak dapat dijumpai lagi karena perkembangan lalu lintas yang sangat padat.

Sekarang trem hanya digunakan di daerah pabrik gula untuk mengangkut tebu yang akan digiling dari penampungan ke lokasi penggilingan di daerah Kebonagung. Padahal sekitar tahun 1910-an trem ini mempunyai banyak jurusan dari Singosari, Tumpang sampai Kepanjen. Beberapa alat transportasi lainnya adalah oplet, bemo dan dokar.

Berdasar buku petunjuk Kotapradja malang pada 1969, ada beberapa tempat parkir di Malang. Antara lain, oplet jurusan Batu di pegadaian, jurusan Tumpang di boldy, jurusan Kepanjen di jagalan Trem, jurusan Surabaya di Jalan Kabupaten, jurusan Turen-Dampit-Gondanglegi-bululawang berada di Comboran. Sedangkan untuk bemo dan demo berada di Kidul Pasar dan truk di Jalan Halmahera. Sedangkan tempat parkir dokar berada di Kidul Dalem, Kotalama, Jagalan, Kauman, Halmahera dan Kebalen.

Bank Indonesia

Javasche Bank (Bank Indonesia) dirancang oleh biro arsitek Hulswit, Fermond & Ed. Cuypers dari Batavia pada 1915. Hampir bersamaan dengan bangunan-bangunan gedung yang lain di sekitar alun-alun, seperti Palace Hotel (Hotel Pelangi).

Tidak seperti bangunan Javasche Bank yang lain di Indonesia yang menggunakan model neo-clasik dengan kolom-kolom Yunani yang tinggi, di Malang terkesan lebih modern. Pada zaman pendudukan Jepang pada 1943, diperintahkan pembatasan semua fasilitas Belanda, termasuk sekolah-sekolah, sedangkan rakyat dilarang menyimpan dana di bank.

Satu-satunya bank yang ditunjuk untuk menghimpun dana dari seluruh bank adalah Javasche Bank dengan tujuan, Jepang dapat mengawasi ketat seluruh perekonomian dengan satu pintu.

Setelah dibumihanguskan pada 1947 oleh pejuang-pejuang Kota Malang, dibangun kembali tanpa meninggalkan bentuk dasar bangunan aslinya dengan diberi penambahan pagar besi yang kelihatan sangat kokoh.

Bisko Rex-Ria

Salah satu contoh bentuk design art deco yang sekarang lagi trend adalah desain gedung Bioskop Rex. Sekarang telah dibongkar habis dan diganti gedung perkantoran sebuah bank.

Seandainya tetap mempertahankan bentuk art deco yang sekarang banyak dijadikan acuan desain modern dunia, pasti akan lebih banyak orang yang datang ke sana minimal untuk foto bersama. Tapi itupun adalah salah satu bentuk promosi gratis. Sebelumnya bioskop Rex berganti nama Ria.

Sepanjang jalan itu terdapat banyak sekali gedung bioskop, antara lain Alhambra, Grand, Centrum, Merdeka, Surya, Agung, Jaya, Ratna, Mulia, Kelud-Tenun dan di utara ada Irama.

Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara

Bangunan yang mempunyai cirri atap segitiga ini dahulunya adalah kantor Karesidenan Malang yang dibangun pada 1936 oleh arsitek Ir. M.B. Tideman. Sampai sekarang tidak mengalami perubahan yang berarti.

Perkembangan arsitektur Belanda saat itu banyak terpengaruh gaya kolonial awal modern di mana tiap bangunan mempunyai pola simetri yang kuat. Sebelum tahun 1900 areal ini menjadi pusat perdagangan dengan sistem barter, di mana semua penduduk dari pedalaman berkumpul untuk menukarkan barang-barang untuk dibawanya.

Saat terjadi serbuan Tentara Inggris di Surabaya yang disusul pendudukan Kota Surabaya oleh Tentara belanda, pemerintah RI tingkat Provinsi jawa Timur dipindah ke Malang bertempat di gedung bekas Karesidenan Malang ini.

Berhubung perpindahan ini diberengi dengan pengungsian penduduk Surabaya ke Malang, maka dibutuhkan banyak tempat untuk menampungnya, antara lain gedung sekolah Jalan Panderman.

Tahun 1947 saat Malang bumihangus, gedung ini menjadi target untama pembakaran oleh pejuang Malang, karena letaknya yang sangat strategis untuk digunakan kembali oleh Belanda.

Hotel Pelangi-Palace Hotel

Hotel Pelangi awalnya adalah Palace Hotel mempunyai ciri-ciri khas bangunan kolonial tahun 1900-1915, yakni di tengah bangunan terdapat Double Tower yang menjulang tinggi untuk pengawasan dan mempunyai dua blok di sisi kanan dan kiri yang menjorok ke depan.

Dibangun tahun 1916, sebelum menjadi hotel yang memiliki 126 kamar. Pada saat itu tempat ini memang menjadi tempat favorit untuk didirikan hotel. Sekitar tahun 1850 diawali oleh Hotel Malang dengan arsitektur rumah joglo tradisi Jawa yang sangat tradisional, bahkan cenderung layaknya rumah tinggal besar (pendapa), kemudian dibongkar dan dibangun Hotel Jansen dan Hotel Jansen masing-masing mempunyai 50 kamar.

Selanjutnya Palace Hotel menjadi hotel terbesar di Malang pada 1947. Saat terjadi Clash I hotel ini dijadikan tempat pemerintah Kota Malang sementara. Bersamaan dengan dibakarnya gedung Balai Kota Malang , pegawai beserta sebagian penduduk mengungsi ke daerah di sekitar Malang Selatan. Sampai saat ini di dalamnya masih terjaga keasliannya, bentuk lantai, plafon, dan dinding bergambarkan Belanda yang dibuat masa pemerintahan Belanda masih terlihat mengkilap.

Masjid Jamik

Masjid Jamik Malang dibangun 1875. Sedang tanah lapang di depannya 7 tahun kemudian, tahun 1882, dibangun alun-alun Malang (50 tahun Kotapradja Malang, 1964). Masjid ini termasuk 3 masjid “beryoni” di Jawa Timur selain Masjid Ampel Surabaya dan Masjid Jamik Pasuruan.

Masjid ini mempunyai tiang di bagian dalam sebanyak 20 buah, sebagai simbol 20 sifat wajib Alloh SWT dan 4 tiang besar di depan sebagai simbol 4 sifat wajib Nabi Muhammad SAW.

Tiang-tiang ini adalah tempat yang utama untuk memanjatkan doa kepada Alloh SWT. “Saat saya kecil, KH. Zaini Amin pernah bercerita tentang keutamaan tiang-tiang ini, karena saat dibangunnya para pendiri berpuasa dengan khusuk, sampai-sampai setelah salat Jumat para sesepuh masjid berebut untuk bersandar di tiang-tiang ini sambil memanjatkan pujian kepada Alloh SWT” (saat saya mewawancarai KH.Kamilun, ketua Yayasan Masjid Jamik Malang).

Dulu di dalam masjid ini terdapat prasasti yang berisi peresmian perluasan masjid pada 15 Maret 1903 dan selesai 13 September 1903. Prasasti itu ditandatangani langsung oleh Bupati Malang IV Raden Bagoes Mohammad Sarib yang menjadi Bupati Malang dengan gelar Raden Adipati Ario Soerto Adiningrat Ridder der Officer Oranje Nassau, menjabat tahun 1898 sampai 1934.

Perluasan tahap II tahun 1950, tahap III tahun 1980 dan tahap IV tahun 1992 dan pada tahun 2002 atas anjuran arsitek Perancis yang mengamati langsung kondisi bangunan, masjid ini diperkuat sekaligus diperindah sampai sekarang.

Bentuk dan ornamen masjid tetap dipertahankan “Njawani” sampai sekarang. Di mana dapat dilihat bentuk pintu, hiasan tombak, dan ukiran-ukiran dari besi baja sejak kali pertama dibangun.

Di belakang masjid terdapat makam beberapa kerabat bupati yang sekarang dipindah ke Makam para Bupati di Gribig. Salah satunya kemungkinan besar makam Kyai Tumenggoeng Mertonegoro yang berganti nama Kijaie Toemenggoeng Nitienegoro setelah menjadi Bupati Malang I periode sebelum kolonial  (tahun 1740). “Kandjeng Nitinegoro sedo pesarehan ing wingking Masjid Jamek, Aloon-aloon Malang” (surat Eyang Mlojokoesomo/ Bupati Malang II kepada cucunya Soemowirjo, 1929).

Sedangkan bupati keempat pra kolonial atau periode pertama masa colonial, R.Toemenggoeng Ario Notodiningrat meninggal tahun 1884 dimakam di Gribig (kitab Nitieadiningrat 1914).

Gereja GPIB Immanuel

Di perempatan alun-alun utara tahun 1861 berdiri sebuah Gereja Protestan kuno bersebelahan dengan Masjid Jamik. Karena bentuknya sangat sederhana oleh Belanda dibongkar dan dibangun kembali dengan gaya Gereja Gothic tahun 1912.

Pada waktu itu halaman depan masih hijau dan luas. Seiring perkembangan kota yang pesat dan lokasinya yang tepat di persimpangan jalan utama, maka halaman depan gereja ini menjadi semakin sempit. Sedangkan bentuk luar dan dalam gereja persis sama dengan awal dibangunnya.

Sasiun Kota Lama

Stasiun Malang Kotalama adalah stasiun kereta api tertua di Malang. Stasiun kelas I yang terletak di Kelurahan Ciptomulyo, Kecamatan Sukun, Kota Malang ini dibangun pada tahun 1879. Penambahan nama Kotalama ini awalnya sekedar untuk membedakan dengan Stasiun Malang (Kotabaru) yang baru dibangun pada 1941. Faktor usia bangunan yang lebih lama dan kuno ketimbang “saudara mudanya” itu juga melatarbelakangi penamaan Kotalama pada stasiun tersebut.

Stasiun yang berada di Daerah Operasi VIII Surabaya ini dibangun sebagai bagian dari rute kereta api jalur Surabaya-Pasuruan-Malang. Pemerintah Kolonial Belanda, melalui perusahaan Staats Spoorwegen (SS), membangun Stasiun Malang Kotalama ini untuk mengangkut hasil bumi dari Malang dan sekitarnya ke Pelabuhan Tanjung Perak (Surabaya) melalui Pasuruan.

Stasiun Kotalama ini merupakan stasiun kereta api paling selatan yang ada di Kota Malang. Stasiun ini berada pada ketinggian +429 meter di atas permukaan laut, sehingga jalur rel menuju stasiun ini bisa dibilang cukup terjal, terutama pada jalur Bangil-Lawang (+18 kilometer dari Malang). Di jalur tersebut, kemiringan tanjakan rel mencapai lebih dari 15 per mil. Itulah mengapa setiap kereta dari arah utara menuju ke Malang yang melalui jalur ini harus berjalan melambat, semi mengurangi risiko anjloknya gerbong kereta.

 

Gedung Flora-Gedung Wijaya Kusuma

Flora Cinema dibangun pada 1928 dengan fasilitas Biljart Room, barber shop dan toko-toko makanan. Setelah kemerdekaan, gedung ini berganti nama Wijaya Kusuma dan menjadi gedung kesian yang paling representatif di Malang  dengan fasilitas panggung utama dan dua panggung samping serta balkon untuk penonton dan akustik ruang, yang sangat indah.

Banyak grup-grup besar tanah air pernah bahkan mengawali kariernya dari sini, seperti Srimulat, Lokaria, dan Ketoprak Siswobudoyo.masih banyak gedung kolonial dan tradisional yang sangat bersejarah, yang patut kita ketahui sekaligus kita lestarikan keberadaannya, saya sangat berharap bangunan-bangunan tersebut dapat terlindungi sesuai dengan konvensi UNESCO tentang World Heritage Site. Yang bisa melindungi adalah masyarakat (pemilik) dan peraturan (pemerintah).

Jika keduanya mempunyai komitmen menjaga dengan jelas dan berkelanjutan, maka di masa depan, Insyaalloh akan terjaga demi kepentingan anak cucu kita lima puluh tahun lagi.

KISAH SEJARAH KOTA MALANG YANG TAK BANYAK TERUNGKAP (9)

Jati Diri Di Sosok Ken Dedes dan Topeng Malang

Sebuah daerah dikenal karena ada cirri pembeda dengan daerah lain. Tersebutlah kata jati diri. Topeng Malangdan Ken Dedes sebagai ibu para raja adalah sebagian kecil jati diri Malang.

Pada saat rapat program kerja nasional 2012 di Jawa Timur tentang pembentukan travel pattern (pola perjalanan wisata), setiap kota di Jawa Timur mengajukan usul yang beragam. Tetapi, usul beragam itu harus membentuk satu linkage system yang komprehensif.

Pada prinsipnya tourist attraction (objek wisata) tidak dapat dipisahkan oleh batas administrasi territorial. Seperti Gunung Bromo, wisatawan tidak akan terlalu peduli gunung tersebut masuk wilayah Malang, Pasuruan, Probolinggo atau Lumajang. Yang mereka pedulikan, bagaimana dapat menuju ke sana dengan nyaman dan aman.

Tetapi setiap wilayah memang harus mempunyai diferensiasi guna distinguisged brand identification yang kadang bukan muncul dari slogan yang digembar-gemborkan, tetapi pengamatan jujur dari tourist’s eyes.

Demikian juga Malang (bukan wilayah administrative Kota Malang, kabupaten atau Batu).

Tapi Malang sebagai satu kesatuan territorial image yang mempunyai icon melekat sejak dikunjungi dan ditulis dalam berbagai expedition (Raffles, 1826). Yakni, Singhasari, Kanjuruhan, Kendedes dan Topeng Malangan.

Pasti semua orang Malang sudah paham betul, siapa Kendedes, Kerajaan Singhasari, Kanjuruhan, atau topeng Malangan. Tetapi tidak ada salahnyakali ini kita bahas sekali lagi untuk me-refresh ingatan tentang nenek moyang yang telah ikut membentuk siapa kita sekarang,

Pada zaman prasejarah, secara geologis dataran tinggi Malang berawal dari endapan lava beku dab lempeng hitam bekas aliran lava yang membentuk suatu danau purba. Danau itu selanjutnya berubah menjadi datran tinggi Malang (J.Mohr, dalam Mustopo, 2002).

Masa peradaban perunggu-besi dan megalithik di Malang sekitar abad VI sebelum Masehi-telah lahir seni bangun dan seni patung. Peninggalan Megalithik bisa kita lihat di Watu Gong, Desa Dinoyo (Blasius, 2009) yang berbentuk seperti kenong (alat musik gamelan) dan mirip lesung (stone mortar).

Menurut penelitian Dr. Williem, Batu merupakan umpak dari bangunan prasejarah. Setelah sekian lama berselang, keberadaan Malang sebagai satu daerah, muncul kembali dengan adanya Candi Badut. Candi Badut adalah salah satu candi tertua di Jawa Timur.

Gaya bangunannya sejenis dengan candi-candi di Dieng Jawa Tengah. Candi yang berada di Barat Laut Kota Malang ini terletak di Desa Badut dan ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 1921 oleh Mr.Maurenbrecher. Pada waktu itu, ia menjabat sebagai kontrolir BB (pamong praja jaman kolonial).

Peninggalan dan penyelidikan dilakukan pada tahun 1925 dan selesai tahun 1926. Candi yang mempunyai ukuran kamar induk 3,35 meter dan 3,67 meter serta mempunyai ragam hias Kala Makara di pintu gerbang, Kinnara dan Kinnari pada pintu tangga, serta ragam hias bunga-bungaan (floralistie ornament) di dinding candi, seharusnya terdapat arca Durga Mahisasuramardini di utara. Selain itu juga harus ada arca Ciwa Guru di selatan, Ganeca di timur dan Lingga Yoni di pusat kamar candi.

Namun, sekarang yang ada hanya arca Lingga Yoni. Meski masih belum jelas Lingga Yoni di sini apakah Lingga Yoni yang disebutkan dalam prasasti Dinoyo 682 Caka. Prasasti Dinoyo sebelum dibawa ke museum Nasional di Jakarta.

Arca itu ditulis dalam bahasa Sansekerta dengan huruf jawa kuno berangka tahun dalam bentuk Candra Sangkala. Bunyinya Natana Vasurasa yang berarti 682 Caka atau 760 M. Prasasti ini menyebutkan adanya raja bernama Devasimha yang mempunyai putra Gajayana, Kerajaan Kanjuruhan dan mempunyai cucu bernama Uttijana akan mengganti arca Agastya yang terbuat dari Kayu Cendana dengan arca yang terbuat dari batu hitam dan membuat candi (kemungkinan candi Badut) yang indah.

Nama Badut sendiri berasal dari nama Liswa, dalam bahasa Sansekerta berarti pelawak (Badut).

Terus, siapa Ken Dedes itu? Dalam kitab Pararaton disebutkan bahwa Ken Dedes adalah istri dari Raja Singhasari Sang Amurwabhumi atau populer dengan nama Ken Arok. Ken Dedes juga terkenal dengan kecantikannya, sehingga banyak pihak menganggap arca cantik Prajnaparamitha ini adalah identifikasi perwujudan dari putri Ken Dedes.

Memang disebutkan Ken Dedes adalah penganut agama Budha Tantrayana yang taat dan pandai ilmu agama sehingga pendapat tersebut tidaklah terlalu berlebihan. Terlebih mengacu pada ketaatan Dewi Prajnaparamitha, yang merupakan salah satu Dewi dalam cerita Budha.

Penemuan arca yang aslinya terdapat di kompleks Candi Singhasari dan sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta-membuktikan bahwa Malang merupakan pusat kerajaan besar di wilayah Jawa. Tentunya yang menguasai daerah sekitarnya (Prasasti Mula-Malurung 1255 M).

Selain secara arkeologis ditemukan pathirthan (pemandian) yang kini disebut sendang Ken Dedes di Singosari, juga terdapat situs di daerah Polowijen (Ponowijian). Daerah Polowijen juga merupakan tempat tinggal seorang biksuni Budha Tentrayana, tak lain adalah Ken Dedes dan orang tuanya Mpu Parwa.

Ken Dedes dalam kitab Nagara Kertagama disebut sebagai wanita Nareswari, seorang wanita yang akan menurunkan raja-raja. Siapapun yang menikahinya akan menjadi raja. Itulah sebabnya Ken Arok berusaha keras untuk menikahinya meskipun harus mengorbankan banyak nyawa.

Keturunan Ken Dedes antara lain Raja Anusapati (meninggal 1248 M dan sosoknya dicandikan di Candi Kidal), Panji Tohjaya (meninggal 1250 M), Rangga Wuni (Abhiseka Wisnuwardhana meninggal tahun 1270 M dan dicandikan di Candi Jago), Mahesa Campaka (Bhatara Narasingamurti), serta Kertanegara (1254 M).

Duplikat patung Ken Dedes ditempatkan di sebelah kiri pintu masuk Kota Malang, bertujuan agar para pendatang yang memasuki Kota Malang mengetahui bahwa raja-raja besar di Jawa adalah keturunan orang Malang.

Selanjutnya, image yang terbentuk dari Malang lainnya adalah topeng Malang. Menurut saya, jika sekarang ditanya apa ikon yang menjadi ciri khas Malang, pasti 75 persen orang Malang menjawab Topeng Malang. Sebelum semua bersuara topeng Malang harus dilestarikan, diselamatkan, bahkan dikembangkan, ada baiknya mencoba untuk mengetahui terlebih dahulu apa, siapa, dan bagaimana topeng Malang itu.

Saya ada sedikit data yang saya rangkum dengan wawancara dan studi literatur sejak tahun 1998. Topeng adalah penutup wajah dalam pertunjukan wayang topeng yang bermakna lambang jasmani atau badan yang tampak (Zoetmulder, SY 1989:213/Serat Centini V, 347-349).

Wayang Topeng Malang mempunyai ciri khas di bidang kesenirupaan, tata busana, iringan musik gamelan dan cerita yang dimainkan (Supriyanto, 2004:12). Cerita Topeng Malang yang digunakan penari, pengukir dan Ki Dalang bersumber pada ragam sastra lisan cerita Panji yang ruang, waktu dan suasananya mengacu pada peristiwa sejarah pada jaman Singhasari, Kediri, Daha dan Tanah Seberang Jawa (Tanah Sebrang) jaman Prabu Airlangga (1019-1041 M) dan Prabu Jayabaya (1130-1157 M).

Dalam Kitab Negara Kertagama, pupuh 91 baik 4 juga sudha dikenal dari topeng , yang menyebutkan:”Bahwa para pembesar ingin beliau menari topeng. Ya jawab beliau”. Cerita panji sendiri ada beberapa versi antara lain : Hikayat Panji Kuda Semirang, Panji Semirang, Galuh Digantung, Cekel Wanengpati, Misa Taman Jayeng kusuma, Dewa Asmara Jaya, Undakan Panurat dan Panji Kamboja (Poerbatjaraka, 1968).

Perkembangan topeng di Malang menurut beberapa sumber berawal sekitar tahun 1898, saat Kabupaten Malang dipimpin Raden Bagoes Mohamad Sarib yang bergelar Raden Adipati Ario Soerio Adiningrat.

Menurut Ridder der Officer oranje Nassau, terdapat dua orang dalam satu perguruan topeng, yaitu mbah Reni (Polowijen) dan mbah Gurawan (Sumberpucung). Tjondro alias Mbah Reni adalah abdi dalem Kabupaten Malang yang dikenal sebagai dalang, penari dan pengrajin topeng.

Semasa beliau (Raden Adipati Ario Soerio Adiningrat), grup topeng yang terkenal berasal dari Pusangsanga Kawedanan Tumpang. Selain itu ada beberapa kumpulan wayang topeng seperti, Mbah Tirtowinoto (Jabung), Mbah Rusman dan Mbah Sapuadi (Precet).

Lalu, ada kumpulan di Desa Wangkal, Glagah Dowo, Gubug Klakah, Dhuwet, Dhumpul, Jabung, Senggreng, Kademangan, yang selanjutnya diteruskan oleh Rakhim, Rasimun, Gimun, dan Djakimin (Supriyanto-Adi Pramono, 1997). Sedangkan Mbah Gurawan mempunyai murid Mbah Marwan, buyut dari Mbah Karimun, cikal bakal topeng di Kedung Monggo, Pakisaji Kabupaten Malang.

Mbah Karimun pada waktu kecil bernama Paryo. Karena sering sakit-sakitan, namanya diganti menjadi Karimun. Mbah Karimun lahir tahun 1910. Orang tuanya, Kimun dari Ponorogo, dan Ibu Jamik dari Bangil, Pasuruan, tinggal di Desa Bangelan, Pakis.

Topeng Kedung Monggo sendiri berawal dari kakek Mbah Karimun yang bernama Ki Serun, seorang warok asli Ponorogo yang terpaksa mengungsi ke Malang karena dikejar oleh tentara Belanda. Dia lalu menetap sebagai Kamituwo di Kedung Monggo setelah berganti nama Ki Semun. Dia tinggal beserta istrinya, Mbah Murinah dan Mbah Waginah.

Mulai tahun 1933 mendirikan sanggar bernama Pendowo Limo. Tahun 1978 berganti nama sanggar Asmoro Bangun yang berarti Cinta Kebaikan. Sejak saat itu Mbah Karimun mengajar di berbagai sanggar, antara lain di Desa Genengan, Kaseran, Sutojayan, Wonokerto, Palakan, Plaosan, Kranggan, Nglowok, dan Ngajum (Karimun, 2000-2007).

Lakon Induk yang sangat populer adalah lakon “Rabine Panji”. Lakon ini mengisahkan Perkawinan Panji Reni dengan tokoh utama Panji Inukertapati, Dewi Anggraeni dan Dewi Sekertaji.

Jumlah Topeng Malang yang asli adalah 6 buah, yaitu Klono, Bapang, Panji, Sekartaji, Gunungsari, dan Ragil Kuning. Enam atau Nem berarti nemen olehe ngudi berkembang menjadi 40, selanjynta 140 jenis. Sedangkan ragam hias pada topeng, antara lain ragam hias urna (pada bagian kening), ragam hias dahi (menunjukkan sifat kebangsawanan, seperti melati, kantil, dan teratai), dan ragam hias jamang (irah-irahan, tutup kepala).

Warna pada topeng menunjukkan karakter tokoh dalam dunia pewayangan. Warna putih menggambarkan jujur, suci dan berbudi luhur. Lalu kuning menggambarkan kemuliaan, hijau menggambarkan watak satria dan warna merah untuk raksasa, menggambarkan angkara murka (Sunari, 2002).

Pembukaan wayang topeng khusus di Tumpang menggunakan tari pembuka Beskalan atau Srimpi Limo. Sedangkan di Malang, sekarang banyak sekali versi untuk berbagai kepentingan.

Dengan sedikit data yang sederhana ini, perlu langkah untuk melestarikannya dengan tepat sasaran. Topeng tidak hanya dicetak dari plastik tanpa tahu bentuk kayu aslinya. Atau dipresentasikan di kota besar tanpa tahu alamat pengrajin sebenarnya. Yang harus dihindari betul adalah, menjadikan topeng sebagai komoditas penghasil rupiah tanpa pernah “menyentuh” nasib para pahlawan-pahlawan topeng. Padahal mereka tetap menjaga warisan budaya, mempertahankan kemurnian budi pekerti bangsa.

Nah, sekarang semua fakor distingushed brand telah dikupas, apa langkah selanjutnya? Sebagai penguat akar budaya dan penggerak utama pariwisata, faktor ciri khas lokal konten menjadi jawabannya.

Banyak langkah yang bisa dilakukan menuju ke arah sana. Misalnya identifikasi perbedaan Malang dengan kota lain. Tapi yang paling sederhana dan bisa dilakukan secara bersama-sama, adalah langkah peduli dengan sesuatu yang dekat dan selalu bersinggungan dengan kita. Yaitu straatnamen (nama-nama Jalan) di Malang.

Kita punya Kayutangan, Temenggungan, Polehan, Comboran, Kidul Dalem, Mergosono, Kotalama dan banyak lagi. Itu merupakan aset lokal-konten yang tidak dimiliki oleh kota-kota lain.

Sekarang telah diganti dengan nama-nama baru yang tidak mempunyai nilai pembeda dengan kota lain. Masalahnya, punyakah kita keinginan untuk mengembalikan nama-nama jalan yang menjadi jati diri Malang? Besar kemungkinan nama-nama asli itu masih dicintai oleh masyarakat Malang sampai sekarang. Mau bukti? Meskipun telah diganti lebih dari 10 tahun, masyarakat asli Malang tetap bangga berkata,”Sorry jes, ayas kera Onosogrem (Mergosono)”.

KISAH SEJARAH KOTA MALANG YANG TAK BANYAK TERUNGKAP (8)

Namanya Malang, Tapi Nasibnya Tak Malang

Mengapa harus diberi nama Kota Malang? Padahal semua orang tahu arti kata Malang adalah kurang baik. Ada tiga versi atas penyebutan nama Malang. Bahkan, sampai ada versi sebutan Malang itu dari Sultan Mataram.

Terus kalau sudah tahu artinya kurang baik, kenapa mau tetap menggunakan sebagai nama kota? Setahu saya, sepanjang sejarah tidak ada peristiwa yang menunjukkan bahwa Malang bernasib sial. Yang saya pelajari justru nasib Kota Malang sangat beruntung.

Malang satu-satunya tempat pertahanan, Malang sebagai kunci pertahanan Jawa Timur, Malang sebagai nominasi ibukota negara, Malang tata kotanya dijadikan  model kota Hindia Belanda dan fakta-fakta sejarah lainnya yang menunjukkan Kota Malang justru sangat spesial.

Saking spesialnya, sampai pemerintah Belanda tidak ingin keberuntungan kota ini diketahui orang lain dengan memdudukinya langsung pada 1767 (dengan mendirikan benteng di Malang untuk menguasai Jawa Timur).

Memang pada kenyataannya, setelah itu tercatat Malang adalah daerah penghasil devisa terbanyak untuk ekspor beberapa komoditi pertanian ke berbagai negara Eropa.

Malang dari Nama Bangunan Suci, Versi Rakyat dari Sultan Mataram

Dan dalam waktu singkat langsung menduduki kota terbesar kedua di Jawa Timur.

Kalau menyimpulkan hipotesa di atas, jelas Malang tidak berarti sial tapi justru sangat menguntungkan. Nah, sekarang sejak kapan kata Malang dipakai sebagai nama daerah? Atai Malang itu arti sesungguhnya itu apa?

Ada beberapa pendapat dari penelitian yang layak dipercaya, kapan Malang mulai dikenal. Pendapat pertama, Malang adalah kependekan dari kata Malangkuceswara atau tepatnya Bhatara Malangkuceswara seperti disebutkan dalam Prasasti Kedu atau dikenal dengan Prasasti Mantyasih pada tahun 907 Masehi.

Prasasti tersebut ditulis atas perintah raja Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Dharmodaya Mahasambhu (Shutterheim, 1927). Prasasti yang sekarang berada di Museum Pusat Jakarta nomor D 40 itu, tertulis Kapujan Bathara I Mangkucecwara. Namun, perlu kita cermati pendapat yang pertama yang tertulis dalam baris 9 adalah Mangkucecwara dan bukan Malangkuceswara yang kita kenal berarti Tuhan menghancurkan yang batil.

Pendapat yang kedua, Malang berasal dari nama suatu bangunan suci. Malangkucecwara yang diperuntukkan bagi pemujaan dewa Ciwa yang diwujudkan dengan Lingga. Menurut Prof. S. Wojowasito (1976), nama bnagunan suci itu diambil dari nama daerah di mana lokasi bangunan itu berada.

Kalau pendapat oitu benar, berarti ada nama daerah Malangkucecwara. Terus di mana kira-kira daerah tersebut? Beliau menjelaskan lagi kemungkinan daerah-daerah tersebut. Pertama, di daerah gunung Buring. Dulu gunung yang membujur ke arah timur kota Malang tersebut puncaknya bernama Malang. Tetapi pendapat tersebut tidak didukung dengan data yang akurat. Yang saya tahu, nama gunung Malang disebut dalam peta tahun 1930 (peta Topografi Malang, Garnizoenkarrt Malang en Omstreken 1938).

Daerah kedua lokasi bangunan Malang kuceswara itu berada di sebelah utara Tumpang. Menurut beliau, karena di sana masih terdapat nama desa Malangsuka. Dalam teori metatesis, kata suka bisa diucapkan kusa. Karena itu, Malangsuka mungkin dulunya adalah Malang kusa (Malangkucaswara). Pendapat ini diperkuat di daerah Tumpang ditemukan banyak peninggalan sejarah, seperti Candi Jajago dan Kidal.

Sekarang pendapat yang ketiga, berdasar penelitian yang dipimpin oleh Prof. Habib Mustopo. Nama Malang lebih dapat diterima berasal dari sebuah piagam atau prasasti tahun saka 1120 atau 1198 Masehi yang ditemukan pada tanggal 11 Januari 1975 oleh seorang administratur perkebunan di Bantaran Kabupaten Blitar.

Terdiri dari 8 lempengan prasasti perunggu dari desa Ukirnegara. Menurut beliau, penemuan ini lebih memberikan keakuratan data. Karena di sini, kata Malang pertama kali disebut sebagai nama tempat, bukan sebagai nama raja atau kependekan dari Malangkuceswara.

Disebutkan, taning sakrida (ning) Malangakalihan wacid lawan macupa-sabhanira deh (dyah) limpa-20-makanagrani. Yang artinya sebelah timur tempat berburu (di) Malang bersama Wacid dan Mucu. Nama Malang di sini disebut sebagai daerah di sebelah Timur Gunung Kawi.

Kemudian, selain dari pendapat di atas sebenarnya dalam cerita lisan rakyat, kata Malang disebutkan kali pertama diucapkan oleh Sultan Mataram saat hendak ekspansi ke Jawa Timur. Pendapat dari masa asal-usul nama Malang bisa disimpulkan sendiri berdasar data-data di atas, tetapi yang jelas, Malang bukan berarti sial, Malang is not unlucky city.

Para Penguasa di Malang

Setelah membahas tentang asal mula nama Malang, selanjutnya kita juga sebaiknya tahu siapa saja yang pernah menjadi penguasa di Kabupaten Malang atau di Kota Malang. Ada perbedaan sejarah yang tercatat dalam daftar Bupati Malang dengan data yang saya dapatkan.

Dalam daftar Bupati Malang, bupati pertama adalah Raden Tumenggung Kertonegoro (tidak diketahui sejak kapan) sampai dengan tahun 1822. Data lain berdasar Babad Willis dan Stamboom den Laststen Vorst van Het Hindoe, Javasnche Rijk van Mojopahit dijelaskan bupati pertama adalah Raden Aria Malayakusuma, wedana Siti Ageng Mataram.

Hal ini dikarenakan, pengakuan Belanda secara resmi memang bupati pertama adalah Bupati RT. Kertonegoro, sedangkan RA.Malayakusuma adalah notabene pengikut Suropati yang melawan terhadap Belanda yang mengangkat dirinya sendiri tanpa restu dari Belanda.

Bupati Malayakusuma mulai menjabat tahun 1743 dan meninggal tahun 1767. Setelah beliau meninggal, Belanda mendirikan benteng di sekitar sungai Brantas yang sekarang digunakan untuk bangunan RSSA. Benteng tersebut berdiri untuk melindungi sisi dalam Kabupaten Malang yang saat itu sekitar daerah Celaket, Garnizoen (benteng Kelojian/Klojen), Kayutangan, Tumenggungan dan alun-alun.

Sedangkan daerah di luar itu, seperti Oro-Oro Dowo, Sawahan masih harus ditundukkan. Untuk mengamankan semua daerah yang diluar garis tersebut, Belanda mengangkat Bupati Malang I (menurut Almanaken Naam Register van Nederlands Indie) yang mempunyai tugas utama membikin anam daerah yang belum aman.

Bupati Malang kedua adalah Raden Panji Wolasmoro yang memerintah sejak tahun 1823 sampai dengan tahun 1835 (Algemeen Jaarlijksch Verslag 1823). Bupati Malang saat itu masih mendapat pengakuan dari pihak Belanda di bawah Bupati Bangil dan Bupati Pasuruan.

Hal tersebut bias dilihat dari gaji yang diterima setiap bulannya. Tahun 1823 Kabupaten Malang merupakan daerah perkebunan yang menghasilkan banyak pajak dari Belanda, seperti pajak kopi, pajak buah yang banyak dikirim ke Surabaya. Sehingga infrastruktur jalan menuju Surabaya mulai ditingkatkan menjadi jalan raya.

Bupati Malang ketiga adalah Raden Tumenggung Notodiningrat yang memegang jabatan Bupati Malang mulai tahun 1835-1839. Bupati ini dikenal sebagai seorang bupati yang berkepribadian kuat serta cakap dalam memerintah dan mempunyai seorang patih yang juga mampu bekerja sama dengan baik.

Sebagai perbandingan, patih pada wakti itu juga mendapatkan gaji lebih rendah dari patih di Kabupaten Bangil dan Pasuruan dengan perbedaan sekitar f.200 dengan penduduk 67.443 orang dengan perbandingan 64.737 orang Jawa, 59 orang Belanda dan 2.498 orang Madura. Sisanya orang China dan Arab.

Sedangkan Bupati Malang yang keempat adalah Raden Adipati Ario Norodiningrat (1839-1884). Pada saat pengangkatan bupati keempat pada 12 November 1839 disebutkan pula pejabat-pejabat Kabupaten Malang (Amanak tahun 1881) adalah Asisten Residen yang dijabat oleh A. Van Der Gon Netscher (19 Juli 1878); Patih Raden Ngabehi Joyo Adowinoto (29 Agustur 1877); Letnan China dan Letnan Tituler Kwee Sioe Ing dan Kwee Sioe Go (23 April 1880); Kepala Bangsa Melayu Encik Raidin (10 Juni 1870); Kepala bangsa Arab Moo; Sech Awad bin Oemar Aljabari (6 Desember 1877).

Saat itu wilayah Kabupaten Malang masih terdiri dari 7 kawedanan 64 desa. Kepala daerah Kabupaten Malang yang kelima adalah Raden Tumenggung Ario Notodiningrat menjabat bupati tahun 1884-1898. Pada masa pemerintahannya, baru dibangun tangsi militer di daerah Rampal (Staatblad 1887 no.194) dan jumlah Kawedanannya bertambah satu, yakni kawedanan Turen.

Selanjutnya Bupati RT Ario digantikan oleh bupati keenam, yakni Bupati Suryo Adiningrat menjabat tahun 1898-1934. Pada saat kepemimpinan bupati Suryo banyak sekali perubahan di Kabupaten Malang. Menurut saya inilah bupati yang paling kaya pengalaman. Bagaimana tidak, saat diberlakukannya undang-undang desentralisasi tahun 1903, bupati bersama Asisten Residen Malang dan Dewan Wilayah harus mempersiapkan kawedanan kota menjadi kotamadya dan baru terlaksana pada tahun 1914.

Beliau juga yang menata ulang alun-alun dan merenovasi Masjid Jamik Kota Malang. Setelah itu digantikan oleh Raden Adipati Ariosam tahun 1934 sampai masuknya Jepang ke Malang tahun 1942. Pada saat pemerintah Jepang mengumumkan susunan pejabat sementara, mengangkat bupati RAA Sam menjadi Malang Syucokan yang merangkap menjadi Kenco dan Syico.

Selanjutnya Bupati Malang dijabat oleh R. Soedomo (1945-1950); H. Said Hidayat (1950); R.Mas Tumenggung Ronggo Moestedjo (1947-1950); Mas Ngabehi Soentoro (1950-1958); Soendoro Hardjoamidjojo (1958-1958); Mas Djapan Notoboedojo (1959-1964); Moch. Sun’an SH (1964-1969); R.Soewignjo (1969-1980); Kolonel Inf.Eddy Slamet (1980-1985); Kolonel Inf. H. Abdul Hamid Mahmud (1985-1995); Kolonel Inf. Muhammad Said (1995-2000); Ir. Moch Ibnu Rubianto, M.BA (2000-2002) dan masa-masa sekarang dijabat oleh H. Sujud Pribadi, S.Sos, S.E kemudian digantikan H. Rendra Kresna.

Sedangkan setelah dibentuknya Kotapradja Malang tahun 1914, Kota Malang belum mempunyai wali kota sampai 1919 dengan wali kota pertama. Berikut daftarnya sbb :

No. Foto Nama Wakil Wali Kota Masa Jabatan Keterangan
Masa Penjajahan Belanda
* F.L. Broekveldt 19141918 merangkap sebagai asisten residen Malang
* J.J. Coert 19181919
1.
Bussemaker31.png
H.I. Bussemaker

Tidak Ada

19191929
2.
EA Voorneman.jpg
Ir. E.A. Voorneman
19291933
3.
Lakeman1.jpg
Ir. P.K.W. Lakeman
19331936
4.
Boerstra1.jpg
J.H. Boerstra
19361942
Masa Penjajahan Jepang
5.
Bupati-sam-crop1-crop11.jpg
I. Raden Adipati Ario Sam

Tidak Ada

19421942
caretaker I
6.
Mr. Soewarso Tirtowijogo
19421945
caretaker II
Masa Kemerdekaan Indonesia
7.
SardjonoWiryohardjono-7thmayorOfMalang.jpeg
M. Sardjono Wiryohardjono

Tidak Ada

19451958
*
Amidarto1.jpg
Amidarto
19471948
Wali Kota Federal
*
Suhadi1.jpg
R. Soehari Hadinoto
19481950
8.
KoesnoSoeroatmodjo.jpeg
Koesno Soeroatmodjo
19581966
9.
Soedarto9thmayorofMlg.jpeg
Kol. M. Ng. Soedarto
19661968
caretaker
10.
IndraSoedarmadji-10thMayorofMalang.jpeg
Kol. R. Indra Soedarmadji
19681973
11.
Soegiyono-11MayorofMlg.jpeg
Kol. Soegiyono
19731983
12.
Soeprapto1thmayorofMlg2.jpg
Drs. Soeprapto
19831983
13.
TomUripan13thMayorofMlg.jpeg
dr. H. Tom Uripan N, SH
19831988
14.
Soesamto.jpeg
H. M. Soesamto
19881998
15.
Suyitno15mayorofMalang.jpg
Kol. Inf. H Suyitno
19982003
16.
EbesInep-16thMayorofMalang.jpg
Drs. Peni Suparto, M.AP
Drs. Bambang Priyo Utomo, B.Sc.
13 September 200313 September 2008
masa jabatan pertama
13 September 200813 September 2013
masa jabatan kedua
17.
Walikota Malang Anton.jpg
Ir. H. Mochamad Anton
Drs. Sutiaji
Sejak 13 September 2013

Lambang Kota Malang

Lambing Stadsgemeente Malang ditetapkan dengan surat keputusan Stadshemeenteraad, 7 Juni 1937 Nomor : AZ 407/43 disahkan Gouverment Besluit dd 25 April 1938 N 027 dengan sesanti, Malang Nominor Sursum Moveor (Malang Namaku Maju Tujuanku). Tanggal 30 Oktober 1951 DPRD Kotamadya Malang mencabut dan mengganti dengan yang baru berdasar SK 51 DPR disahkan dengan keputusan Presiden RI tanggal 29 November 1954 Nomor 237 Gambar Burung Garuda dengan sesanti yang sama.

Tanggal 10 April 1964 dengan keputusan DPRD Nomor: 7/DPRDGR sesanti Kotamadya Malang diganti menjadi Malaangkuca-icwara atau lazim dibaca dalam kalimat lengkap Malang Kuceswara (Tuhan Menghancurkan Yang Bathil).

BACA JUGA

>> SEJARAH KOTA MALANG DARI MASA KE MASA

>> WISATA SEJARAH MALANG RAYA

(dikutip dari http://pattiromalang.blogspot.co.id dan beberapa sumber lainnya)

SUMBERSARI OKE